Bendungan Bili-bili Retak Hoax atau Betul? Ini Penjelasan Pimpro Pembangunannya, Tentang Daya Tahan

Setiap hujan deras turun, isu hoax juga kerap beredar. Seperti isu Bendungan Bili-bili yang jebol hingga membuat masyarakat panik.

Penulis: Nur Fajriani R | Editor: Ina Maharani
Instagram
Suasana Bendungan Bili-bili Selasa (22/1/2019) diposting Bupati Gowa Adnan Puricta Ichsan. Bupati Gowa mengimbau warga di sekitar Bendungan Bili-bili untuk waspada 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Nur Fajriani R

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pascahujan deras beberapa wilayah di Sulawesi Selatan mengalami bencana banjir, akibat meluapnya sungai. Termasuk Kabupaten Gowa, di mana debit air Sungai Jeneberang meningkat, sehingga meluber ke sejumlah wilayah di sekitarnya

Setiap hujan deras turun, isu hoax juga kerap beredar. Seperti isu Bendungan Bili-bili yang jebol hingga membuat masyarakat panik.

Bendungan Bili-bili merupakan bendungan terbesar di Sulawesi Selatan. Dengan luas waduk 40.428 hektare. Pembebasan Lahan mulai tahun 1991, konstruksi 1992, dan diiresmikan ditahun 1999.

Mengenai daya tahan bendungan, Pimpinan Proyek (Pimpro) saat Bendungan Bili-bili dibangun, Soeprapto Budisantoso yang juga merupakan mantan Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Sulsel meyakinkan bahwa bendungan Bili-bili mempunyai stabilitas dan ketahanan yang tinggi.

"Di mana hal itu telah diuji secara teliti oleh Komisi Keamanan Bendungan," ujarnya.

Mengenai kondisi dam Bili-bili diharapkan masyarakat tidak khawatir berlebihan. "Dam dilengkapi dengan instrumentasi dan pengelola bendungan yang profesional," ujarnya.

Disamping itu Pemerintah Daerah juga sigap menyikapi kondisi siaga. "Hujan lebat di daerah hulu yang hampir merata menimbulkan situasi seperti kemarin dan  masih dalam tahap waspada terhadap kemungkinan hujan susulan," tambahnya.

Ditanya soal berbunyinya sirine di dam Bili-bili seperti info yang beredar, Soeprapto  mengatakan (jika sirine berbunyi) itu memang sesuai prosedur sistem peringatan dini yang dirancang untuk bendungan Bili-bili

"Sirine akan otomatis berbunyi ketika muka air menyentuh ketinggian tertentu, di mana pintu pelimpah harus dibuka.  Bahkan disertai pengumuman dalam bahasa daerah melalui pengeras suara," kepada Tribun Timur, Rabu (23/1/2019) melalui pesan Whatsapp.

“Tujuannya agar masyarakat yang sedang berada di sungai, saat sedang melakukan kegiatan memecah batu atau lainnya, segera meninggalkan lokasi karena air akan dikeluarkan dari bendungan," tambah Soeprapto.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved