BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat ditopang permintaan domestik.

BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
BANK INDONESIA
Logo Bank Indonesia. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap kuat ditopang permintaan domestik.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Wajiyo dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) di kantor BI, Jakarta, Kami (17/1/2019) menuturkan berbagai indikator pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2018 menunjukkan permintaan domestik tetap kuat ditopang oleh konsumsi, baik konsumsi swasta maupun konsumsi Pemerintah.

"Konsumsi swasta diprakirakan tetap baik seiring terjaganya daya beli dan keyakinan konsumen serta dampak positif persiapan pemilu. Konsumsi pemerintah tumbuh kuat ditopang belanja barang dan bantuan sosial," katanya dalam siaran pers.

Baca: Jelang Pemilu 2019, Napi Lapas Selayar Jalani Perekaman E-KTP

Baca: Rekam Jejak Ira Koesno, Moderator Debat Capres-Cawaspres 2019, Kontroversi Cabut Gigi

Baca: Terakreditasi Paripurna, Dollah Mando Resmikan Gedung Baru Puskesmas Tanrutedong

Baca: Rakor Pendidikan Dihadiri 1200 Kepsek dan Pengawas

Baca: TRIBUNWIKI: Gammara Gelar Kontes Foto Valentine

Baca: Tim Terpadu Evakuasi Pohon Tumbang di 18 Titik di Gowa

Namun demikian, ekspor diperkirakan masih terbatas dipengaruhi pertumbuhan ekonomi dunia yang melandai dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun.

Sementara itu, impor mulai menurun sejalan dengan kebijakan yang ditempuh, meskipun masih tumbuh tinggi untuk memenuhi permintaan domestik.

"Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2019 tetap baik yakni pada kisaran 5,0-5,4%, ditopang oleh terjaganya permintaan domestik dan membaiknya ekspor neto," ujarnya.

Neraca perdagangan Indonesia Desember 2018 mencatat defisit sedangkan aliran masuk modal asing masih berlanjut.

Defisit neraca perdagangan tercatat sebesar 1,1 miliar dolar AS dipengaruhi penurunan kinerja ekspor, khususnya ekspor nonmigas akibat kondisi global yang kurang kondusif.

Sementara itu, aliran masuk modal asing kembali terjadi pada Desember 2018 sebesar 1,9 miliar dolar AS, dan berlanjut pada Januari 2019.

Posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2018 cukup tinggi sebesar 120,7 miliar dolar AS, atau setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor atau 6,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Suryana Anas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved