Derita Bocah 8 Tahun Ini, Jadi Korban Tsunami Kini Dimintai Rp 17,2 Juta Dari Rumah Sakit

Derita Bocah 8 Tahun Ini, Jadi Korban Tsunami Kini Dimintai Rp 17,2 Juta Dari Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM), Kota Cilegon. Dia adalah Nafis Naam

Kompas.com
Derita Bocah 8 Tahun Ini, Jadi Korban Tsunami Kini Dimintai Rp 17,2 Juta Dari Rumah Sakit 

TRIBUN-TIMUR.COM - Derita para korban tsunami Selat Sunda seperti belum juga berakhir.

Jika kemarin jenazah AA Jimmy membuat pihak keluarga harus mengeluarkan uang untuk pemulangannya, kini korban lain yang selamat dan dirawat juga diminta bayaran oleh rumah sakit.

Dia adalah Nafis Naam (8).

Baca: Mucikari Tawarkan Vanessa Angel & Avriellia Shaqqila Lewat Instagram, Si Pengusaha Bayar Dulu 30%

Baca: Pembina Kabupaten Sehat Luwu Utara: Swasti Saba Kategori Wistara Harus Dipertahankan

Baca: Updating Bursa Transfer: Persija Sudah Dapat Pemain Asing, Persib, PSM, Persebaya, Borneo Masih Nego

Baca: Dosen UIN Nilai Ilham Arief Sirajuddin Masih Tokoh Politik Berpengaruh

Baca: TRIBUNWIKI: Enam Tempat Laundry di Jl Sultan Alauddin Kota Makassar

Baca: Incar 4 Kursi, Intip Daftar Caleg PDIP Luwu Utara

Baca: 4 Kalimat Klarifikasi Diucapkan Vanessa Angel Sebelum Meninggalkan Polda Jatim

Baca: Ramai Pengunjung, Pohon Tumbang Masuk Kolam Permandian Eremerasa Tumbang

Baca: BSA Land Bukukan 25 Unit Selama Pameran di MP dan TSM

Baca: 2018, 330 Unit Rumah di Royal Sentraland Terjual Senilai Rp 310 M

Pihak keluarga mengaku ditagih Rp 17,2 juta untuk biaya perawatan di Rumah Sakit Krakatau Medika (RSKM), Kota Cilegon.

Tagihan tersebut muncul setelah korban rawat inap selama satu minggu di kelas II.

"Dari awal masuk anak saya langsung ke kelas II, demi Allah enggak pernah minta ke VIP," kata Sulastri (36), orangtua Nafis Naam (8), korban tsunami Selat Sunda yang dirawat di RSKM, Minggu (6/1/2019).

Sulastri mengatakan, Nafis dirawat di RSKM atas rujukan dari RSUD Berkah Pandeglang.

Namun, saat masuk ke RSKM pada Minggu 23 Desember 2018 lalu, lewat jalur umum dan langsung menempati kelas II Ruang Melati 14.

"Tidak ada yang mengarahkan korban tsunami harus di ruang mana, saya minta ke kelas II karena masuk lewat jalur umum, pilih kelas III juga enggak bisa pakai BPJS karena korban bencana, dan saya juga tidak mengetahui sama sekali jika korban tsunami dibayari oleh pemerintah," ujar dia.

Pihak rumah sakit, kata Sulastri, sudah memberi tahu jika dirawat di kamar kelas II ada selisih biaya yang harus dibayarkan.

Dirinya tahu betul itu dan kemudian menyanggupi.

Halaman
123
Editor: Waode Nurmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved