Kepada Al Jazeera, Prabowo Subianto Ungkap Kenapa Dia Masuk 'Daftar Hitam' Amerika Serikat (AS)
Video wawancara Prabowo tersebut diunggah kembali oleh Priyo Budi Santoso, Sekretaris Jenderal Partai Berkarya melalui akun Twitternya @PriyoBudiS
Kepada Al Jazeera, Prabowo Subianto Ungkap Kenapa Dia Masuk 'Daftar Hitam' Amerika Serikat (AS)
TRIBUN-TIMUR.COM - Calon Presiden (capres) Indonesia nomor urut 2, Prabowo Subianto berbicara tentang tuduhan kudeta oleh dirinya hingga menyebut ada kesamaan antara dirinya dengan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela saat wawancara dengan Al Jazeera.
Diketahui, Prabowo Subianto pernah diwawancarai oleh Al Jazeera pada tahun 2013, dengan episode Prabowo Subianto: 'The People are Fed Up' (rakyat muak-red).
Video wawancara Prabowo tersebut diunggah kembali oleh Priyo Budi Santoso, Sekretaris Jenderal Partai Berkarya melalui akun Twitternya @PriyoBudiS, Minggu (30/12/2018).
Baca: 10 Daftar Orang Indonesia Paling Banyak Diberitakan Tahun 2018, Ternyata Dominasi Pendukung Prabowo
Prabowo Subianto menegaskan ia menolak jika dikaitkan dengan perencanaan kudeta.
Lebih lanjut, Prabowo menegaskan, dukungan tetap datang untuknya meski dihantam isu tersebut.
Ia yakin warga Indonesia tidak bodoh dan tidak percaya begitu saja dengan isu tersebut.
Namun pewawancara, Veronica Pedrosa menyanggah dengan realita bahwa Prabowo masuk daftar 'black list' negara Amerika.
Prabowo menyatakan bahwa Nelson Mandela juga masuk daftar hitam negara Amerika Serikat, sama seperti dirinya.
Baca: 5 Alasan Pendiri PAN Minta Amien Rais Pensiun Urus Politik, Bagaimana Dukungan ke Prabowo Subianto?
Lebih lanjut, Prabowo menjelaskan bahwa banyak yang dilarang masuk ke Amerika, itu merupakan usaha Amerika untuk menghentikan pergerakan.
Menurut Prabowo, Amerika Serikat juga tahu bahwa dirinya tidak terlibat dalam segala kejahatan yang dituduhkan.
Dalam wawancara tersebut, tim Al Jazeera berkunjung langsung ke rumah Prabowo Subianto.
Diberitakan Aljazeera.com pada 17 November 2013, tim Al Jazeera menceritakan kunjungan mereka ke kediaman Prabowo Subianto, menjelang Pilpres 2014 lalu.
Waktu itu, untuk ketiga kalinya pada tahun 2014, ia mencalonkan diri sebagai presiden pada kebijakan populis.
Survei menunjukkan bahwa jika pemilihan diadakan sekarang (2013) ia akan menjadi Presiden Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Demokrasi di Indonesia, katanya, terancam oleh "elit" negara.
Baca: VIDEO: Lihat Bagaimana Emak-emak di Soppeng Ini Sambut Sandiaga Uno
"Demokrasi di Indonesia dapat gagal karena lemahnya sistem hukum kita, atau sistem penegakan kita, kecurangan besar-besaran; ini adalah periode yang sangat sensitif.
Seberapa bijak elit Indonesia? Atau apakah elit Indonesia ingin melanjutkan bisnis seperti biasa, lanjutkan keadaan saat ini di mana semuanya tersedia untuk dijual?," ujar Prabowo.
"Ketika Anda melayani sebagai seorang prajurit di eselon tertinggi, Anda akan selalu menjadi sasaran tuduhan, tuduhan, pencemaran nama baik karakter; itulah risiko profesi Anda," katanya.
"Ini adalah pemilihan umum ketiga saya; Saya telah berkompetisi dalam politik selama 15 tahun, dalam bisnis.
Jadi setiap kali dukungan saya naik, tuduhan mulai datang tetapi orang Indonesia mereka tidak sebodoh itu, Anda tahu, itu sebabnya saya semakin kuat mendukung," imbuh Prabowo Subianto.
Berikut wawancara lengkap Prabowo Subuanto dengan Al Jazeera.
Baca: 27 Jenis Ponsel yang Tak Bisa Gunakan Aplikasi WhatsApp (WA) di Tahun 2019, Cek Daftarnya Disini!
Ini Peran Prabowo pada Kerusuhan 1998 Versi Eks Kepala Staf Kostrad
Dua mantan petinggi militer di zaman itu Letjen TNI (purn) Yunuf Yospiah (70) dan Mayjen TNI (purn) Kivlan Zen (67) memberikan klarifikasi soal tragedi tersebut saat tampil sebagai pembicara dalam Ramah Tamah dan Diskusi bersama tokoh dan akademisi Makassar yang digelar di Hotel Swiss Bell, Minggu (18/5/2014) lalu.
Kivlan yang menjabat Kepala Staf Kostrad ABRI saat Prabowo menjabat Panglima Kostrad kala itu membantah jika Prabowolah dalang dari kerusuhan Mei 1998.
"Isu itu dihembuskan oleh orang-orang yang tak suka dangan pak Prabowo. Yang benar adalah justru Prabowo lah yang mati-matian mengamankan Jakarta."
"Dalam tiga hari saja kerusuhan bisa dikendalikan bandingkan dengan negara-negara lain," ujar mantan Kepala Staf Daerah Militer VII Wirabuana ini. (*)
Subscribe untuk Lebih dekat dengan tribun-timur.com di Youtube:
Jangan lupa follow akun instagram tribun-timur.com
Baca: Siapkan Rp 30 Miliar, Kenapa Banyak Pemain Tolak PSM Makassar, Bursa Transfer Persib, Persija, MU
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/calon-presiden-2019-prabowo-subianto.jpg)