Dahsyatnya Tsunami Akibat Letusan Gunung Krakatau 135 Tahun Lalu, Gelap di Siang Hari & Hujan Lumpur

Dalam Majalah Intisari edisi Agustus 1983, letusan Gunung Krakatau disebut 21.574 kali lebih kuat dibandingkan bom atom.

internet
GUNUNG KRAKATAU MELETUS 

Tak menyerah begitu saja, Le Sueur berhasil menggapai beberapa keping atap.

Air kemudian kembali ke laut dan kaki Le Sueur akhirnya merasakan daratan.

Hujan lumpur turun dari langit.

Terdengar dari kejauhan suara minta tolong namun Le sueur tidak mempunyai kekuatan untuk menolong.

Bahkan ia tak bisa berdiri saking lemasnya. Pikirannya dipenuhi ketakutan dan kalut.

Apalagi ia tak bisa melihat apa-aoa sebab langit begitu gelap bagaikan malam padahal hari masih siang.

Tak lama, air datang lagi dengan kekuatan yang sama kuatnya dari pertama.

Sebelum badannya terhantam tsunami, Le Sueur berdoa agar memohon keselamatannya dan warga kampung.

Ia pasrah untuk menghadapi maut.

Le Sueur dihanyutkan air, diputar, lalu dihempaskan dengan kekuatan dahsyat.

Tubuhnya terjepit antara dua rumah yang mengapung, ia pasrah menghadapi maut karena tak bisa bernapas.

Ketika berpikir ajalnya kaan menjemput, tiba-tiba saja kedua rumah tersebut terpisah.

Le Sueur menemukan batang pisang yang dijadikan pelampungnya.

Ia mengapung dalam waktu yang lama. Le Sueur tak bisa memperkirakan berapa jam ia mengapung.

Akhirnya air surut, Le Sueur tak bisa bergerak, ia hanya terduduk dalam waktu kira-kira sejam.

Langit masih gelap, hujan lumpur tak kunjung berhenti.

Le Sueur mendengar sura manusia di sekitarnya, ia memanggil dan mulai bangkit.

Sambil berjalan terseok-seok, Le Sueur meraba-raba jalan.

Pakaian yang melekat di tubuhnya hanya tersisa kain flanel, sisanya hanya kain yang tercabik-cabik.

Le Sueur akhirnya diselamatkan seseorang yang membawa obor.

Ketika itu diperikirakan pukul 9 pagi, tetapi masih tetap gelap gulita.

 

Le Sueur dibawa ke Kampung Kasugihan melewati hutan semak berduri dan mengarungi lumpur.

Setelah itu ia meneruskan perjalanan ke Penanggungan. Setibanya di sana, waktu sudah pukul 8 malam.

Baru beristirahat satu jam, Le Sueur mendengar gemuruh air, tempat mereka berada belum aman.

Mereka menyelamatkan diri lagi ke arah pegunungan.

Setelah dua jam berjalan, mereka mencapai Desa Payung yang terletak di lereng Gunung Tanggamus.

Di sana Le Sueur diberi sarung, disambut dengan ramah, dan disuguhi makanan.

Keesokan harinya, Le Sueur menyuruh untuk melihat apa masih ada warga kampung tempatnya berasal yang masih hidup.

Namun, hampir seluruh Baneawangan luluh lantak. Banyak warga kampung lenyap.

Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Ketika Krakatau Meletus 135 Tahun yang Lalu, Jam 7 Pagi Masih Gelap, Warga Panik Menyebut Nama Allah, http://jabar.tribunnews.com/2018/12/24/ketika-krakatau-meletus-135-tahun-yang-lalu-jam-7-pagi-masih-gelap-warga-panik-menyebut-nama-allah?page=all.
Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi
Editor: Fauzie Pradita Abbas

Editor: Ilham Arsyam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved