Rupiah Tembus Rp14.615/Dolar, Terlemah Sejak November 2018

Rupiah melemah 0,24% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Rupiah Tembus Rp14.615/Dolar, Terlemah Sejak November 2018
dok_facebook/tribun-timur/reviniti
grafik pelemahan Rupiah atas Dolar Amerika, 17 Desember 2018 

JAKARTA, TRIBUN – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus melemah dan menembus level Rp 14.600/US$. Rupiah menyentuh titik terlemah sejak pertengahan November 2018, yang sempat tembus Rp15.230/US$.

Pada Senin (17/12/2018) pukul 13.00 WIB, US$ 1 di perdagangan pasar spot dihargai Rp 14.615. Rupiah melemah 0,24% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Rupiah pun kembali menyentuh kisaran Rp 14.600. Nilai rupiah menjadi yang terlemah sejak 15 November 2018, yang mencapai Rp15.280.

Teller bank Bank Central Asia (BCA) menghitung uang pecahan 100 dolar AS di Bank BCA jl Ahmad Yani, Makassar, Senin (24/8/2015). Kemarin nilai tukar dolar sempat menyentuh diangka R 14 ribu per 1 Dollar. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR
Teller bank Bank Central Asia (BCA) menghitung uang pecahan 100 dolar AS di Bank BCA jl Ahmad Yani, Makassar, Senin (24/8/2015). Kemarin nilai tukar dolar sempat menyentuh diangka R 14 ribu per 1 Dollar. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR (TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR)

Baca: Ekonomi Digital Akan Tumbuh Semakin Tinggi Tahun 2019

Rupiah sebenarnya bergerak searah dengan mata uang utama Asia yang juga melemah di hadapan dolar AS.

Depresiasi 0,24% membuat rupiah menjadi mata uang terlemah kedua setelah rupee India. Faktor domestik di atas menjadi penentu kurang apiknya performa rupiah.

Faktor domestik dan eksternal menjadi pemberat langkah mata uang Tanah Air. Dari dalam negeri, kebutuhan valas korporasi sedang tinggi jelang akhir tahun.

Terutama korporasi asing yang beroperasi di Indonesia, mereka tentu mempersiapkan kebutuhan valas untuk setoran dividen yang akan dikirim ke negara asalnya di awal tahun 2019.

Selain itu, pelaku pasar berekspektasi data perdagangan internasional yang dirilis hari ini kurang ciamik. Konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan ekspor tumbuh 2,6% year-on-year (YoY) dan impor tumbuh lebih kencang yaitu 8,5% YoY. Sementara neraca perdagangan diramal defisit US$ 990 juta.

Direktur Bidang Sistem Pembayaran Uang Rupiah BI KP Sulsel, Amalison Sembiring pada rilis bulanan dan buka puasa bersama di kantornya Jl Sudirman Makassar, Senin (21/5/2018)
Direktur Bidang Sistem Pembayaran Uang Rupiah BI KP Sulsel, Amalison Sembiring pada rilis bulanan dan buka puasa bersama di kantornya Jl Sudirman Makassar, Senin (21/5/2018) (fadly/tribuntimur.com)

Baca: Ini 5 Hal yang Bikin Rupiah Melemah Hingga Tembus Rp 15 Ribu per Dolar AS, No 3 Yield Spread

Sebagai informasi, pertumbuhan ekspor pada bulan sebelumnya atau Oktober 2018 adalah 3,59% YoY dan impor melesat 23,66% YoY. Ini membuat neraca perdagangan mencatat defisit yang cukup dalam yaitu US$ 1,82 miliar.

Bila neraca perdagangan November benar-benar defisit, maka nasib transaksi berjalan (current account) pada kuartal IV-2018 akan di ujung tanduk. Bisa saja transaksi berjalan kembali mengalami defisit seperti kuartal sebelumnya, yang mencapai 3,37% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Kala transaksi berjalan terancam, maka rupiah pun akan ikut tertekan. Pasalnya, rupiah jadi tidak memiliki modal untuk menguat karena minimnya pasokan valas dari ekspor barang dan jasa. Sepertinya data perdagangan bisa menjadi sentimen yang memberatkan rupiah.

Penulis: Chalik Mawardi
Editor: Thamzil Thahir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved