Pengusiran Mahasiswa di Kantor Bupati Toraja Utara, Ini Kata Kasatpol Pamong Praja?
Bupati Kalatiku sangat siap menerima kedatangan mereka, tapi tidak bisa jika jam istrahat karena akan melayat ke keluarganya di Lembang Bori
Penulis: Risnawati M | Editor: Arif Fuddin Usman
Laporan Wartawan TribunToraja.com, Risnawati
TRIBUNTORAJA.COM, RANTEPAO - Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Damkar Pemkab Toraja Utara, Andarias Sesa angkat bicara terkait kericuhan yang terjadi antara mahasiswa dan aparat Satpol PP di Kantor Bupati Toraja Utara, Senin (10/12/2018) kemarin.
Sejumlah mahasiswa tergabung dalam Gerakan Solidaritas Mahasiswa Toraja (Gasmator) unjuk rasa peringati Hari Anti Korupsi Internasional dengan tujuan menemui Bupati Kalatiku Paembonan.
"Aksi damai yang dilakukan anak kita dari mahasiswa kemarin, sebenarnya hanya kesalahpahaman antar Satpol PP dan pengunjuk rasa," ucap Andarias saat ditemui TribunToraja.com, di ruang kerjanya, Selasa (11/12/2018).
Baca: Danny Pomanto Kukuhkan 45 Duta Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang
Baca: Polisi Bilang Tangkap Pelaku Pembunuhan di Rumah Anggota TNI, Perwira Kodam Marah
Dikatakannya, Bupati Kalatiku sangat siap menerima kedatangan mereka, tapi tidak bisa jika jam istrahat karena akan melayat ke keluarganya di Lembang Bori.
"Bupati berpesan jika mahasiswa datang dan beliau sudah pergi melayat, arahkan ke Sekda, namun saat dihubungi Pak Sekda juga berangkat ke Palopo perjalanan dinas," jelasnya.
Kata Andarias, dengan tidak adanya pejabat lain setingkat eselon dua, maka ia mengambil alih untuk mengajak para mahasiswa ke ruang pola sesuai perintah Bupati Kalatiku.
"Jadi saling dorongan pagar bersama Satpol PP memang ada, saya panggil Korlap dulu, namun tanpa perintah saya maupun Korlapnya mahasiswa memaksa masuk tanpa disuruh," tutur Andarias.
"Selaku pimpinan Satpol saya katakan tidak ada niat mengusir anak kita, kami hanya pada tindakan antisipasi karena pengamanan kantor ada di pundak kami, jadi bagi kami itu bukan pengusiran," ungkapnya.
Namun, para mahasiswa tidak ingin ke ruang pola karena hanya ingin jika ada Bupati Kalatiku, dan mengatakan kenapa mereka diterima oleh staf.
"Saya katakan saya kepala dinas, saya perpanjangan tangan pak bupati, namun mereka tetap ngotot maka saya ke kampung Pak Bupati di Bori untuk menyampaikan masalah ini dan begitu saya menelfon ke kantor saya dengar kabar mahasiswa sudah bubar," tutup Andarias.
Atas kekecewaan mahasiswa di Kantor Bupati Toraja Utara, para pengunjuk rasa melanjutkan aksinya di tugu Kandean Dulang Rantepao dengan membakar ban. (*)
Lebih dekat dengan Tribun Timur, subscribe channel YouTube kami:
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/11122018_andarias.jpg)