Ratusan Perawat Honorer di Mamuju Mogok Kerja

mereka memilih melakukan mogok kerja, setelah melakukan audiance dengan pihak Pemkab Mamuju, namun tidak mendapatkan solusi

Ratusan Perawat Honorer di Mamuju Mogok Kerja
Nurhadi/TribunSulbar.com
Ratusan perawat di Kabupaten Mamuju, bergerak dari Jl Kurugan Bassi menuju depan kantor Bupati Mamuju untuk melakukan unjuk rasa, Kamis (6/12/2018). 

Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, MAMUJU - Ratusan perawat di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, melakukan mogok kerja hingga waktu yang tidak ditentukan.

Hal itu disampaikan ketua Gerakan Nasional Perawat Honorer Indonesia (GNPHI) Usman, kepada wartawan saat ditemui usai berunjuk rasa di kantor Bupati Mamuju, Kamis (6/12/2018).

Usman mengatakan, mereka memilih melakukan mogok kerja, setelah melakukan audiance dengan pihak Pemkab Mamuju, namun tidak mendapatkan solusi atas tuntutan mereka.

Baca: Cerita Aksi Heroik di Pesawat Lion Air Saat Penumpang Berhenti Bernapas saat Sedang Mengudara

Baca: Ratusan Perawat di Mamuju Tuntut Kejelasan Nasib

Baca: Serahkan Bantuan ke Pansel Dirut PDAM Jeneponto, Begini Harapan PPI Jeneponto.

"Seluruh perawat di 22 Puskesmas dan satu RSUD mulai hari ini mogok kerja. Ini adalah bentuk kekecewaan, kami meresa didiskriminasi oleh pemerintah, hari ini kami melakukan demo namun tidak mendapatkan solusi, namun tidak ada solusi yang berikan,"kata Usman, di kantor Bupati Mamuju.

Usman menyebutkan, kurang lebih 800 tenaga perawat yang tersebar di 22 Puskesman dan satu RSUD, akan istirahat sampai mendapat kejelasan dari pemerintah daerah menganai nasib mereka.

Ia mengaku, selama ini mereka hanya mendapat upah Rp 400 ribu per bulan. Baginya, hal tersebut sangat tidak manusiawi.

"Itupun kadang-kadang kami dibayar tiga bulan sekali, bahkan bisa sampai enam bulan baru dibayar,"ujarnya.

Yang lebih miris, kata dia, sebab upah cleaning service di RSUD lebih mahal dibandingkan upah para perawat yang jaga siang malam di rumah sakit.

"Dimana logikanya pak, upah cleaning service Rp 600 ribu, sementara perawat yang kerja berhadapan dengan nyawa hanya diberi upah Rp 400 ribu per bulan,"sesalnya.

Lebih dekat dengan Tribun Timur, subscribe channel YouTube kami: 

Follow juga akun instagram official kami: 

ii

Penulis: Nurhadi
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved