Protes Aktivitas Tambang, Warga Tanralili Ramai-ramai Demo Kantor DPRD Maros

Belasan warga Kecamatan Tanralili, yang dipimpin oleh Herman, berdemo di depan kantor DPRD Maros, jalan Lanto Dg Passewang

Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe

TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Belasan warga Kecamatan Tanralili, yang dipimpin oleh Herman, berdemo di depan kantor DPRD Maros, jalan Lanto Dg Passewang, Turikale, Senin (26/11/2018).

Warga protes dengan maraknya tambang yang diduga ilegal melakukan pengerukan gunung. Keberadaan tambang tersebut sudah berdampak fatal bagi warga.

Lokasi marak penambang yakni Dusun Bonto Panno, Desa Toddopulia. Aktivitas tambang meresahkan warga sekitar.

Selain suara bising ekskavator dan truk, kondisi alam juga sudah hancur. Sejumlah gunung dan pohon sudah hilang akibat ulah tambang.

Baca: Hari Guru Nasional, 5 Guru di Wajo Dapat Penghargaan

Baca: PHRI Sulsel Akan Untus 10 Wakil di Ajang Anugerah PHRI 2018

Baca: Peduli Nelayan, Dishub Pinrang Deklarasi dan Sosialisasi Keselamatan Pelayaran di Suppa

"Kami warga Tanralili, sudah sangat resah. Kampung kami diapit oleh tambang. Debu dan hamburan tanah, memenuhi ruas jalan beton. Bahkan ruas jalan rusak," kata Herman.

Debu sisa tambang juga berterbangan ke rumah warga. Setiap hari, warga menutup pintu rumahnya. Namun debu masih saja masuk ke dalam rumah, untuk mengotori.

Pendemo mendesak DPRD Maros untuk membentuk tim investasi, dan menindaklanjuti keluhan warga. Jika tidak, maka warga akan terus mesakan dampak tambang

"Kami juga meminta kepada pemerintah untuk memperkuat pengawasan dan merehabilitasi bekas tambang di Tanralili. Kami juga minta supaya tambang ditutup," katanya.

Baca: Molor 30 Menit, Baru Tiga Anggota Dewan Hadir di Ruang Paripurna

Baca: Sekretaris Kesbangpol Luwu Utara Harap Bali United Tumbangkan Persija Jakarta

Baca: Upacara HGN, Guru Jadi Pengibar Bendera Di Parepare

Meski tambang marak, namun pemerintah kecamatan Tanralili, dinilai melakukan pembiaran. Padahal seharusnya, kecamatan melakukan pemantauan dan melakukan pencegahan tambang liar.

Massa curiga, pihak kecamatan juga mendapat keuntungan pada aksi tambang ilegal tersebut. Hal itu membuatnya, bersantai dan membiarkan warga menderita.

"Kami minta, pak camat diberikan sanksi. Tidak ada guna-gunanya di sana. Kampung kami hanya dihancurkan. Keasrian alam sudah mulai hilang," katanya.

Saat aksi, para pendemo dikawal oleh personel Polres Maros dan Polsek Turikale.(*)

Penulis: Ansar
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved