Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Ini Niat, Doa & Tata Cara Shalat Tolak Bala Rebo Wekasan, Dilaksanakan Setelah Terbitnya Matahari

Salat sunah tolak bala rebo wekasan merupakan salat tak wajib yang dilaksanakan setelah terbitnya matahari

Editor: Ilham Arsyam
Tribun Jatim
selamatan tolak bala di Desa Geronggang, Kecamatan Kelumpang Tengah 

Makanan yang dibuat untuk upacara biasanya di antaranya ketupat, apem, dan nasi tumpeng.

Kapolsek Kelumpang Tengah AKP Aryansyah Sik saat menghadiri undangan selamatan tolak bala di Desa Geronggang, Kecamatan Kelumpang Tengah.
Kapolsek Kelumpang Tengah AKP Aryansyah Sik saat menghadiri undangan selamatan tolak bala di Desa Geronggang, Kecamatan Kelumpang Tengah. (Polsek Kelumpang Tengah)

Hukum Rebo Wekasan

Dikutip dari SyariahIslam.com, Rebo Wekasan bersumber dari pernyataan dari orang-orang soleh (Waliyullah).

Penulis kitab sama sekali tidak menyebutkan adanya keterangan dari sahabat maupun ulama masa silam yang menyebutkan Rebo Wekasan.

Sedangkan sumber syariat Islam adalah Alquran dan sunnah Nabi SAW, tentunya Rebo Wekasan tidak lantas kita percaya.

Karena kedatangan bencana di muka bumi ini, merupakan sesuatu yang ghaib dan tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Meyakini datangnya malapetaka atau hari sial di hari Rabu terakhir bulan Safar (Rebo Wekasan) termasuk jenis thiyarah (meyakini pertanda buruk) yang dilarang, karena ini merupakan perilaku dan keyakinan orang Jahiliyah.

Pemotongan Rambut Gembel: Ritual pemotongan rambut gembe dilakukan di area area Candi Arjuna pada Dieng Culture Festival (DFC)ke empat di Dusun Dieng, Kelurahan Dien Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Minggu (30/6/2013). Pada puncak acara tersebut dilakukan ritual pemotongan rambut gimbal dari tujuh anak yakni Nuria (7), Listabin Latif, Argifari Yulianto (7), Mazaya Filza Labibah (6), Alira (3), Sasa Bin Jaozi (6), Tita (5). Acara Tersebut merupakan tradisi tahunan sebagai bentuk tolak balak.
Pemotongan Rambut Gembel: Ritual pemotongan rambut gembe dilakukan di area area Candi Arjuna pada Dieng Culture Festival (DFC)ke empat di Dusun Dieng, Kelurahan Dien Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jateng, Minggu (30/6/2013). Pada puncak acara tersebut dilakukan ritual pemotongan rambut gimbal dari tujuh anak yakni Nuria (7), Listabin Latif, Argifari Yulianto (7), Mazaya Filza Labibah (6), Alira (3), Sasa Bin Jaozi (6), Tita (5). Acara Tersebut merupakan tradisi tahunan sebagai bentuk tolak balak. (Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan)

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر وفر من المجذوم كما تفر من الأسد

"Tidak ada penyakit menular (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula ramalan sial, tidak pula burung hantu dan juga tidak ada kesialan pada bulan Shafar. Larilah dari penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari singa." (HR Bukhari, 5387, dan Muslim, 2220).

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, mengatakan:

"Maksud hadits di atas, orang-orang Jahiliyah meyakini datangnya sial pada bulan Safar.

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membatalkan hal tersebut.

Pendapat ini disampaikan oleh Abu Dawud dari Muhammad bin Rasyid al-Makhuli dari orang yang mendengarnya.

Barangkali pendapat ini yang paling benar. Banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan Safar, dan terkadang melarang bepergian pada bulan itu.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved