Produksi Susu dan Es Krim, Dinas Peternakan Sinjai Mengaku Kekurangan Sapi Perah

Penyebabnya karena saat ini bahan baku susu alami sedang tidak mencukupi kebutuhan untuk produksi komersil.

Penulis: Samsul Bahri | Editor: Anita Kusuma Wardana
TRIBUN TIMUR/SYAMSUL BAHRI
Dinas Peternakan Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan sedang memproduksi Susu Sinjai. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Syamsul Bahri

TRIBUNSINJAI.COM, SINJAI UTARA - Pengelola Susu Sinjai (Susin) dan Es Krim Sanzhu menyampaikan bahwa produksinya susah bersaing di pasar global saat ini. Beberapa penyebab sehingga tidak mampu menembus pasar global.

Penyebabnya karena saat ini bahan baku susu alami sedang tidak mencukupi kebutuhan untuk produksi komersil.

Hal itu diakibatkan karena sapi perah jenis FH tersisa 13 ekor yang masih produktif dari 67 ekor sapi perah keseluruhan di Desa Gunung Perak, Kecamatan Sinjai Barat.

"Populasi sapi produktif kami makin berkurang yakni tersisa 13 ekor dari 67 ekor keseluruhan. Dengan keterbatasan jumlah itu mengakibatkan Susin dan es krim Sanzhu tidak bisa berproduksi banyak dan dipasakan ke pasar swalayan," kata Kepala Dinas Peternakan Sinjai Aminuddin Zainuddin, Rabu (31/10/2018).

Selain berkurangnya populasi sapi juga karena produk tersebut belum memiliki sertifikat dari BPOM dan label Majelis Ulama Indonesia (MUI). Atas maslah tersebut Sumarni berharap agar jumlah populasi sapi bisa bertambah dan label BPOM dan MUI segera diadakan.

Sementara Kepala Dinas Peternakan Sinjai Aminuddin Zainuddin menyampaikan bahwa peralatannya sudah cukup hanya saja sementara ini jumlah populasi sapi berkurang. Sehingga berkurangnya pupulasi tersebut pihaknya tidak bisa berproduksi banyak.

"Pada RPJMD lima tahun kedepan saya target sekitar 70 ribu liter pertahun dan kami butuh sekitar 50 ekor induk sapi perah. Dengan jumlah itu maka kebutuhan masyarakat dan pasar bisa terpenuhi di Sinjai," katanya.

Selama ini di Sinjai Susin dan Es krim Sanzhu hanya memenuhi permintaan khusus seperti acara pejabat Sinjai dan untuk kebutuhan pameran pembangunan. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved