Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: AHWA, Cara Nahdliyyin Tentukan Ketua, Begini 13 Tahapan Penentuan Ketua PWNU Sulsel

Metode AHWA dalam menentukan pemipin merujuk pada mekanisme yang diterapkan Khalifah Umar bin Khathab.

TRIBUNWIKI: AHWA, Cara Nahdliyyin Tentukan Ketua, Begini 13 Tahapan Penentuan Ketua PWNU Sulsel
sanovra/tribuntimur.com
Rais Syuriah PWNU Sulsel AGH Sanusi Baco menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) XIII NU Sulsel yang berlangsung di Auditorium KH Muhyidin Zain, Kampus Universitas Islam Makassar (UIM), Jl Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sabtu (27/10). Muswil NU Sulsel ini mempunyai agenda utama yakni pemilihan Ketua Tanfizziyah PWNU Sulsel. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah dan dihadiri oleh Kapolda Sulsel Irjen (pol) Umar Septono, Wali Kota Makassar Danny Pomanto dan sekitar 500 peserta. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Warga Nahdlatul Ulama (Nahdliyyin) punya cara tersendiri dan khas untuk menentukan ketua.

Di muktamar maupun konferensi wilayah dan konferensi cabang, dipilih dua ketua. Dua ketua dimaksud adalah Ketua Dewan Syuriah (Rais Syuriah) dan Ketua Dewan Tanfidziyah (Ketua Pengurus Wilayah/Cabang).

Dalam Muktamar XXXII NU di Jombang, Jawa Timur, disepakati pemilihan ketua NU di semua jenjang harus memakai metode Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

"Ahlu" dalam bahasa Arab adalah serumpun atau kumpulan orang
"Halli" adalah sebuah keadaan atau keudukan
"Aqdi" adalah putusan mengikat.
Dengan demikian AHWA adalah “Sekumpulan orang yang dengan kedudukannya berwenang menetapkan putusan yang mengikat.”

Metode AHWA dalam menentukan pemipin merujuk pada mekanisme yang diterapkan Khalifah Umar bin Khathab. Sebelum wafat, Umar bin Khattab menunjuk dan menetapkan beberapa orang sahabatnya untuk menentukan langkah selanjutnya apabila dirinya meninggal dunia.

Waktu Umar bin Khathab meninggal dunia, sahabat yang telah ditunjuk itu bermusyawarah dan bersepakat memutuskan sesuatu yang harus ditaati oleh seluruh kaum Muslimin pada masa itu. Diantara keputusan tersebut adalah penunjukkan dan pengangkatan Utsman bin Affan sebagai Khalifah pengganti Umar bin Khattab yang telah meninggal dunia.

Berikut 13 tahapan Prosedur AHWA untuk pemilihan Rais Syuriah NU Sulsel dan Ketua PWNU Sulsel 2018-2023, yang dihimpun Tribun Timur dari wawancara dengan Ketua Panitia Konferwil XIII NU Sulsel Dr M Arfah Shiddiq dan anggota Steering Committee Dr Nur Taufiq Sanusi:

I. Peserta penuh dibagi dalam 7 zona:
- Zona I: Makassar, Maros, Gowa
- Zona II: Pangkep, Parepare, Barru, Pinrang, Sidrap- Zona III: Palopo, Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur
- Zona IV: Tana Toraja, Toraja Utara, dan Enrekang
- Zona:V: Takalar, Jeneponto, Bantaeng
- Zona:VI: Bulukumba, Selayar, Sinjai
- Zona: VII: Bone, Soppeng, Wajo
II. Masing-masing zona menyepakati satu kiai untuk masuk dalam Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA)
III. AHWA memilih Ketua Dewan Syuriah (Rais Syuriah)
IV. 24 PCNU masing-masing mengusulkan dua nama bakal calon ketua dewan tanfidziyah
V. SC menghitung jumlah dukungan untuk menetapkan peraih dukungan terbanyak sebagai calon ketua dewan tanfidziyah
VI. SC meminta kesediaan bakal calon yang diusulkan PCNU
VII. Bakal calon ketua dewan tanfidziyah mendaftar ke SC
VIII. SC melakukan verfikasi berkas dan data bakal calon ketua dewan tanfidziyah
IX. Dilakukan pemilihan ketua dewan tanfidziyah oleh peserta
X. Tiga nama peraih suara terbanyak diserahkan ke rais syuriah untuk dimintakan restu
XI. Jika cuma satu orang yang direstui, maka ketua dewan tanfidziyah langsung terpilih
XII. Tapi kalau semua atau minimal dua nama saja yang direstui, maka dua atau tiga nama itu dikembalikan pada peserta untuk dipilih
XIII. Kandidat yang dipilih paling banyak oleh peserta, setelah mendapat restu rais syuriah, dinyatakan ketua dewan tanfidziyah terpilih.(*)

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved