Ini Ulasan Narasumber dalam Diskusi Merespon Surat Edaran Wagub Sulsel di Pinrang

Dalam diskusi itu, menghadirkan dua narasumber. Yakni Harun selaku Pemerhati Masyarakat dan Dirja Wiharja

Ini Ulasan Narasumber dalam Diskusi Merespon Surat Edaran Wagub Sulsel di Pinrang
HERY
Diskusi Intensif di Cafe Brosist, Jl Ahmad Yani, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang, Rabu (24/10/2018) malam. 

Laporan Wartawan TribunPinrang.com, Hery Syahrullah

 TRIBUNPINRANG.COM, PALETEANG - Sejumlah komunitas pemuda menggelar Diskusi Intensif (Diksi) di Cafe Brosist, Jl Ahmad Yani, Kecamatan Paleteang, Kabupaten Pinrang, Rabu (24/10/2018) malam.

Kegiatan yang diinisiasi KosaKata, CoratCoret, Sahabat Kita, dan Lapak Baca At-Ta'lim ini mengangkat tema 'Harmoni Agama dan Budaya : Merespon Surat Edaran Wagub Sulsel Terkait Aktifitas Kebudayaan Terindikasi Syirik'

Dalam diskusi itu, menghadirkan dua narasumber. Yakni Harun selaku Pemerhati Masyarakat dan Dirja Wiharja selaku Ketua Lesbumi Parepare.

Baca: SSCN BKN - Ingin Lulus Tes SKD CPNS 2018? Pelajari 3 Jenis Soal Berikut Ini, Semoga Sukses!

Dalam ulasannya, Harun mengemukakan beberapa dampak yang bisa ditimbulkan jikalau surat edaran itu dikeluarkan. Di antaranya, dapat menghambat dan membatasi kreatifitas masyarakat dalam melestarikan kebudayaan yang ada.

Namun di sisi lain, surat edaran ini juga bisa menjadi stimulus bagi masyarakat dalam memahami seluk-beluk spirit yang terkandung dalam tradisi tertentu.

"Namun intinya, perjalanan kehidupan keberagamaan selalu mengakulturasi kondisi sosial budaya yang ada. Saya hampir tidak melihat ada sekat antara agama dan budaya," papar Harun dalam rilis yang diterima TribunPinrang.com, Jumat (26/10/2018).

Baca: Laudya Cynthia Bella Ungkap Alasan Menjual Rumah Mewahnya, Diminati Menantu Presiden Jokowi

Sementara itu, Dirja lebih menitikberatkan ulasannya dalam hal relasi antara agama dan budaya.

Menurutnya, agama dan budaya sama sekali tidak bisa dipisahkan, lantaran pelaksanaannya selalu didukung oleh infrastruktur budaya.

"Sedari dulu, corak Islam dalam penyebarannya itu selalu mengadopsi peradaban besar pada masanya," jelas Dirja.

Oleh karenanya, kehadiran Islam di tengah masyarakat sama sekali tak pernah berupaya membuat agama dan budaya menjadi clash. Sedapat mungkin keduanya dikawinkan dan diharmonisasikan, sebagaimana yang dilakukan para ulama penyebar agama Islam terdahulu.

"Jadi tradisi yang ada dipertahankan, lalu diisi dan dibungkus dengan spirit Islam. Demikianlah cara yang paling lembut," pungkas Dirja.

Lebih dekat dengan Tribun Timur, subscribe channel YouTube kami: 

 Follow juga akun instagram official kami: 

Baca: Nurdin Abdullah: 1000 Persen Setuju AGH Ambo Dalle Diberi Gelar Pahlawan Nasional

Baca: Polisi Luwu Utara Bakal Gelar Operasi Zebra, Siapkan Surat-surat Kendaraan Anda

Baca: Ditemukan Kapal Tertua di Dunia di Dasar Laut Hitam, Kondisinya Utuh Meski Berumur Ribuan Tahun

(*)

Penulis: Hery Syahrullah
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved