Tribun Wiki

TRIBUNWIKI: Perkim, Wadah 10 Ribu Warga Madura di Sulsel, Ini Sepak Terjang Pasukan Gagak Hitam

Sejak awal kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) secara kelembagaan di Sulsel, Perkim sudah eksis di daerah ini.

dok.tribun
PERKIM SULSEL - Pengurus Perkim Sulsel foto bareng di Lantai Satu Gedung Tribun Timur, Makassar, Selasa (23/10/2018) malam. Mereka adalah Ketua Perkim Sulsel Hasan Bimas (pakai songkok putih), Wakil Ketua Drs Abdul Wahid Efendi Sunaekan (empat dari kanan), Sekretaris Hasanuddin SE (dua dari kiri), Wakil Sekretaris Zakariah Mahmud (kiri), Bendahara Alwi Alfian (kanan), Kepala Humas Sudirman MS (dua dari kanan), Wakil Humas Haji Ago (tiga dari kanan), dan Kepala Koordinator Perkim Sulsel Muh Nasir (tiga dari kiri). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Perkim adalah Persatuan Kekeluargaan Indonesia Madura (Perkim). Organisasi ini mengimpun warga asal Madura, Jawa Timur, di Sulawesi Selatan (Sulsel).

“Memang semuanya belum tercatat sebagai anggota Perkim, tapi jumlah warga asal Madura di Sulsel tidak kurang dari 10 ribu orang saat ini,” kata Ketua Perkim Sulsel H Hasan Bimas di Redaksi Tribun Timur, Makassar, Selasa (23/10/2018) malam.

Berikut Pengurus Perkim Sulsel:
* Ketua Umum: H Hasan Bimas
* Wakil Ketua: Drs Abdul Wahid Efendi Sunaekan
* Sekretaris: Hasanuddin SE
* Bendahara: Alwi Alfian
* Wakil Sekretaris: Zakariah Mahmud
* Kepala Humas: Sudirman MS
* Wakil Humas: Haji Ago
* Kepala Koordinator: Muh Nasir
* Anggota: sekitar 10 ribu orang

Gagak Hitam
Tribunwiki belum memperoleh data sejak kapan Perkim hadir di Sulsel. Hanya saja, lembaga ini sudah eksis di Sulsel sejak tahun 1950-an. Sejak awal kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) secara kelembagaan di Sulsel, Perkim sudah eksis di daerah ini.

Baca: Selalu Koordinasi Mahfud MD, Perkim Dukung Puang Makka Pimpin NU Sulsel

Sejak itu, Perkim sudah akrab dengan ulama-ulama NU. Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf Al Makassary, Syekh Sayyid A Rahim Assegaf Puang Makka, menceritakan sepak terjang pendekar Perkim dalam mengamankan ulama di Sulsel di era pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).

“Saat peristiwa G 30 PKI tahun 1966, di situ peranannya masyarakat Madura sangat penting di Sulsel. Mereka ditugasi menjaga rumah ulama-ulama yang akan diculik oleh PKI. Termasuk rumah saya ini dijaga oleh Perkim dengan pasukan bela diri Perkim, Gagak Hitam," kata Puang Makka.

Waktu itu, ayahanda Puang Makka, Syekh Sayyid A Djamaluddin Assegaf Puang Ramma Qaddasallahu Sirrah, adalah ulama sentral Sulsel yang menetap di Jl Baji Bicara, Tamalate, Makassar.

Pasukan Gagak Hitam Perkim di Sulsel bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor untuk menjaga ulama Sulsel dari ancaman PKI.

"Rumah (di Jl Baji Bicara) dibangun oleh bapak saya (Puang Ramma) tahun 1958. Sempat didatangi PKI tapi tidak berani mendekat, karena ratusan pasukan Gagak Hitam menjaga rumah ini, dan pasukan ini tidak hanya di sini, tapi ke seluruh ulama Sulsel, baik NU maupun Muhammadiyah. Jadi saat itu tidak ada ulama yang diculik PKI," jelas Puang Makka.

Puang Makka mengikuti jejak Puang Ramma menjadi Dewan Penasihat Perkim Sulsel.

"Ini bukan barang baru, karena bapak saya juga dulu ketua dewan penasihat Perkim, Habib Ali Ba'boed bersama KH M Thahir Assegaf, Puang Ramma , itulah dewan pembina Perkim tahun 1957," kata Puang Makka.(*)

Penulis: AS Kambie
Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved