BPPT Target Jeneponto sebagai Pusat Pengembangan Garam Nasional

Ia berharap potensi besar yang dimiliki oleh Sulsel seperti garam, perikanan dan rumput laut bisa dimanfaatkan

BPPT Target Jeneponto sebagai Pusat Pengembangan Garam Nasional
munjiyah/tribunpangkep.com
Petambak garam di daerah Bowongcindea, Kecamatan Bungoro Pangkep, Rabu (3/10/2018). 

Laporan wartawan Tribun-Timur, Saldy

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah dan Wakil Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman menerima kunjungan Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Eniya Listiani Dewi dan rombongan. Mereka diterima di Ruang Kerja Gubernur, Kantor Gubernur Sulsel.

"Kami sudah 10 tahun bersama dan telah memberikan kontribusi untuk Kabupaten Bantaeng atas keberhasilan ini mau ditularkan ke Sulsel," kata Nurdin Abdullah saat memperkenalkan Eniya, Rabu (17/10/2018).

Salah satu kerjasama yang dihasilkan adalah Technopark Bantaeng. Ia berharap potensi besar yang dimiliki oleh Sulsel seperti garam, perikanan dan rumput laut bisa dimanfaatkan. Apalagi, sebut NA, Sulsel memiliki potensi yang luar biasa.

"Yang pasti dengan penuh hati, kami ingin menyambut baik, rencana kegiatan bersama di Sulsel," sebutnya.

Eniya Listiani dalam pemaparannya menyampaikan beberapa produk hasil inovasi dari dalam negeri. Seperti rubber airbag berfungsi sebagai landasan yang membantu peluncuran kapal. upaya lembaganya dimulai sejak tahun 2015, ini juga salah satu bentuk mengurangi ketergantungan dari luar negeri.

"Ini adalah salah satu contoh yang dikerjakan dari hulu sampai hilir," ucapnya.

Berbagai produk inovasi lainnya di sampaikan seperti, rumah komposit tahan gempa dan aplikasi di dalam tubuh berupa implan.

"BPPT ingin berkontribusi dengan pembangunan yang ada di Sulsel," harapnya.

Untuk Sulsel lembaganya tertarik pada pengembangan garam di Kabupaten Jeneponto. Dua tahun mereka telah melakukan penelitian dan pembahasan. Dan menargetkan Jeneponto menjadi pusat pengelolaan garam nasional.

Potensi garam, paparnya lebih besar berada di kawasan timur Indonesia. Namun hanya saja, untuk menuju industri garam, sebutnya, harus dilakukan revolusi lahan dan digarap dengan metode berbeda.

Revolusi lahan yang Ia maksudkan adalah merekonstruksi lahan dengan metode mengintegrasikan lahan garam. Karena kelemahan yang ada selama ini, petani mendapat air bahan pembuatan garam dari laut langsung. Sehingga masa panenya lama dan kualitasnya rendah serta tata cara pengelolaan belum maksimal.

"Dengan cara mengalirkan dengan metode gravitasi. Masuk di kolam reservoir yang bertingkat. Kemudian air terkumpul, baru setelah itu masuk ke lahan kristalisasi milik petani," paparnya.

Penulis: Saldy Irawan
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved