Sambut HSN, Kemenag Sulsel Gelar MQK 'Kitab Kuning'

Ia mengungkapkan kitab kuning ini jika dipahami, maka kualitas pondok pesantren tidak jauh dari apa yang dituangkan dalam hadis.

Sambut HSN, Kemenag Sulsel Gelar MQK 'Kitab Kuning'
HANDOVER
Sebanyak 160 peserta, ikut dalam Musabaqah Qira’atil Kutub atau kitab kuning yang diadakan oleh Bidang Pendidikan Diniyah (PD) Pondok Pesantren (Pontren) Kemenag Sulsel. 

Laporan wartawan Tribun-Timur, Saldy

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Sebanyak 160 peserta, ikut dalam Musabaqah Qira’atil Kutub atau kitab kuning yang diadakan oleh Bidang Pendidikan Diniyah (PD) Pondok Pesantren (Pontren) Kemenag Sulsel.

Kepala Seksi Pendidikan Kesetaraan, sebagai ketua panita H Muhammad Tonang mengatakan kegiatan ini dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional yang jatuh pada 21 Oktober 2018.

Ia menyebutkan kegiatan lomba dibagi dalam 3 (tiga) marhalah atau tingkatan pada 5 (lima) bidang kitab masing-masing marhala ula pada bidang fiqih, Nahwu sedangkan pada marhala wustha bidang nahwu, akhlaq dan marhala Ulya pada bidang akhlak.

"Alhamdulilah peserta kegiatan ini berasal dari seluruh kabupaten dan kota di Sulsel. Ini membuktikan bahwa kitab suci warisan budaya Islam kita semakin kuat dan tetap dipertahankan," kata Tonang, via Whatsapp, ke tribun-timur.com.

Ia mengungkapkan kitab kuning ini jika dipahami, maka kualitas pondok pesantren tidak jauh dari apa yang dituangkan dalam hadis.

Sementara itu Kepala Kantor Wilayah Kemenag Sulsel, Anwar Abubakar, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan MQK yang diselenggarakan Bidang PD Pontren, sebagai rangkaian hari santri nasional.

Ia mengharapkan dengan kegiatan ini, mampu memberikan yang terbaik untuk Sulsel ke depan.

Menurutnya 'khasanah' membaca kitab kuning perlu ditingkatkan, pasalnya tidak semua pondok pesantren yang ada di Sulsel ini mengajarkan kitab kuning.

Padahal kata Anwar, yang menjadi priorotas terselenggaranya pembelajaran di pondok pesantren adalah adaanya pengajaran kitab kuning didalamnya, yang mengajarkan aqidah, dan akhlak yang berdasarkan Islam.

Ia jiga kedepan mengaku, kitab kuning perlu dioptimalkan pengajarannya, karena kitab tersebut menjadi rujukan para ulama untuk mengkaji, memahami dan memutuskan perkara dengan bijak.

“Insya Allah dengan rutin melaksanakan kegiatan MQK, maka setidaknya Pondok Pesantren di Sulsel tidak lagi jauh ketinggalan dengan pulau Jawa dimana MQK memiliki nuansa bagaimana membaca, memahami dan mengartikulasi," Anwar menambahkan. (*)

Penulis: Saldy Irawan
Editor: Nurul Adha Islamiah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved