7 PTS Muhammadiyah LLDIKTI IX Jadi Peserta Workshop Pengelolaan Manajemen Reputasi

PTMA diharapkan mampu secara bijak mensikapi perubahan zaman tersebut dengan melakukan manajemen perubahan yang terencana.

7 PTS Muhammadiyah LLDIKTI IX Jadi Peserta Workshop Pengelolaan Manajemen Reputasi
handover
Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof Dr H Lincolin Arsyad (tengah) saat membuka workshop Manajemen Pengelolaan Reputasi PTMA di Hotel Jayakarta, Yogyakarta, Rabu (10/10/2018). 

TRIBUN-TIMUR.COM, YOGYAKARTA - Workshop Pengelolaan Manajemen Reputasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah Berkemajuan yang dilaksanakan Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan PP Muhammadiyah di Yogyakarta dibuka Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Dr H Lincolin Arsyad, Rabu (10/10/2018).

Acara akan berlangsung hingga Sabtu (13/10/2018). Dari 33 pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah yang mengikuti pelatihan ini, tujuh di antaranya berada dalam lingkup Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Sulawesi.

Ke-7 perguruan tinggi tersebut, yakni Universitas Muhammadiyah Buton, Universitas Muhammadiyah Gorontalo, Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Muhammadiyah Luwuk, Universitas Muhammadiyah Paru, Universitas Muhammadiyah Parepare, serta Universitas Muhammadiyah Makassar.

Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof Dr H Lincolin Arsyad, dalam acara pembukaan mengatakan, workshop pengelolaan manajemen reputasi bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Universitas Aisyiyah di era disrupsi ini sangat penting dan sangat strategis.

Baca: LLDIKTI IX  Berduka, Prof Tomy Eisenring Meninggal Dunia

Baca: Kepala LLDIKTI IX Koordinasi Pimpinan PTS di Bandara Mutiara SIS Al Jufrie Palu

Dengan workshop ini PTMA diharapkan mampu menjawab tantangan zaman karena perubahan teknologi dan komunikasi yang saat ini begitu dahsyat perkembangannya. PTMA diharapkan mampu secara bijak mensikapi perubahan zaman tersebut dengan melakukan manajemen perubahan yang terencana.

Salah satunya adalah melalui pengelolaan reputasi PTMA yang sesuai dengan perubahan zaman. Oleh karena itu komunikasi dan team work internal dan antar PTMA perlu dikelola secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan.

“Ilmu manajemen pengelolaan reputasi bagi PTMA bukan untuk sekadar dipahami sendiri tetapi apa yang diperoleh selama worshop dapat ditularkan kepada teman-teman di kampus. Ilmu yang diperoleh bukan sebatas untuk dipahami saja tetapi  untuk disosialisasikan agar ilmu ini lebih bermanfaat adanya,” tuturnya.

Prof Lincolin berpesan bahwa di era disrupsi ini persaingan antar perguruan tinggi sangat ketat. Persaingan ini tidak hanya antara perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah tetapi  juga bersaing dengan 4.500-an perguruan tinggi di Indonesia belum lagi dengan perguruan tinggi dari luar negeri.

Karena itu, untuk bisa bersaing maka perguruan tinggi tersebut harus terus meningkatkan mutunya sehingga bisa beradaptasi dengan perkembangan dan kemajuan teknologi dan komunikasi.

Berbicara tentang persaingan, lanjutnya, kata kuncinya adalah mutu, kualitas. Dan tidak ada satupun perguruan tinggi termasuk perguruan tinggi dalam lingkup persyarikatan Muhammadiyah yang bisa bersaing kalau tidakberkualitas.

“Jangan ada perguruan tinggi di Muhammadiyah karena akreditasinya sudah A lalu mereka sombong. Akreditasi itu bisa hilang se waktu-waktu ketika perguruan tinggi tersebut tidak hati-hati. Saya berharap perguruan tinggi lingkup Muhammadiyah kedepan tidak hanya unggul dalam lingkup PTS tetapi juga bisa mengungguli perguruan tinggi terkemuka lainnya di negeri ini, seperti UGM, ITB, IPB, UI dan lainnya,” jelasnya.(*) 

Penulis: Munawwarah Ahmad
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved