Sekda Gowa Sebut Kasus Silariang Jadi Faktor Tingginya Angka Kematian Ibu

Rupanya kasus silariang atau kawin lari dituding sebagai salah satu penyebab masih tingginya angka kematian ibu melahirkan di Kabupaten Gowa.

Sekda Gowa Sebut Kasus Silariang Jadi Faktor Tingginya Angka Kematian Ibu
TRIBUN TIMUR/HASRUL
Sekertaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gowa, Muchlis 

Laporan Wartawan Tribun Timur Wa Ode Nurmin

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA- Rupanya kasus silariang atau kawin lari dituding sebagai salah satu penyebab masih tingginya angka kematian ibu melahirkan di Kabupaten Gowa.

Hal itu disampaikan Sekkab Gowa Muchlis saat membuka acara Sosialisasi Diseminasi Hasil Kajian Dampak Kependudukan Tahun 2018, di hotel D Green, Rabu (10/10/2018).

"Angka kematian ibu melahirkan masih cukup tinggi di Gowa. Diharapkan kedepan hal ini bisa di turunkan. Telusuri kalau ada warga silariang utamanya yang ada di Kampung KB," ujarnya.

Menurutnya, pasangan yang melakukan silariang biasanya tidak mau tersentuh medis saat mengalami kehamilan.

Hal ini karena besarnya faktor siri atau malu bertemu dengan masyarakat luas.

Sehingga jika terjadi kondisi yang membahayakan jiwa calon ibu, tidak diketahui.

Hal inilah kata dia, yang harus diminimalisir, utamanya di desa-desa yang telah berdiri kampung KB.

Muchlis juga berharap, melalui kampung KB yang terbentuk di 27 desa di Kabupaten Gowa mampu meningkatkan derajat ekonomi masyarakat prasejahtera di daerah ini.

Dia ingin kesuksesan cerita kampung KB di negara maju seperti Jepang dapat terulang di kampung KB yang ada di Gowa.

Sementara itu Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Bencana Kabupaten Gowa Sofyan Daud mengatakan, permasalah kependudukan mencakup beberapa aspek salah satunya masalah angka kematian ibu dan bayi.

Dari data dinas kependudukan tahun 2017 menunjukkan jumlah penduduk di Kabupaten Gowa sebesar 752.886 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 399 jiwa/km2.

"Ini berarti rata-rata jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita yang berstatus kawin atau pernah menikah selama usia reproduksi 14-49 tahun sebesar dua sampai tiga anak," ujarnya.

Karena itu diperlukan upaya pengendalian penduduk salah satunya kampung KB dimana pengelolaannya melibatkan semua unsur guna meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.

Penulis: Waode Nurmin
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved