Begini Kisah Heroik Perantau Asal Bulukumba yang Tewas Digulung Tsunami Palu

Menjelang petang itu Husnaeni baru saja selesai mengatur jualan beras milik usaha kakaknya Humrah di rumah mereka

Begini Kisah Heroik Perantau Asal Bulukumba yang Tewas Digulung Tsunami Palu
samba/tribunsinjai.com
Jenazah Humrah,Gembira dan Husnaeni tiba di Batukaropa. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Syamsul Bahri 

TRIBUNBULUKUMBA.COM, RILAU ALE - Tiga orang warga asal Dusun Katangka, Desa Batukaropa, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan tewas bersama keluarganya saat gelombang tsunami menerjang Kota Palu, Sulawesi Selatan pada Jumat (28/9/18).

Mereka adalah Humrah, Gembira dan Husnaeni. Mereka merupakan masih suami istri dan kakak dan adik. Humrah adalah istri dari Gembira. Sedang Husnaeni adalah adik dari Humrah. 

Menjelang petang itu Husnaeni baru saja selesai mengatur jualan beras milik usaha kakaknya Humrah di rumah mereka di perkampungan pesisir Kota Palu.

Menjelang selesai merampungkan usaha beras itu, tiba-tiba suara gemuruh gelombang  tsunami mulai bergemuruh dari arah laut Palu. Saat mendengar suara tersebut,  Husnaeni beranjak keluar dan menyaksikan gulungan ombak yang makin dekat dari rumah yang mereka tempat bersama kakaknya itu. 

Melihat kondisi itu, Husnaeni spontang melarikan seorang anaknya ke luar lebih tinggi dari rumahnya. Seorang anaknya sudah aman di daerah dataran tinggi di kota itu. 

Karena Husnaeni mengingat kakaknya yang sementara sedang sakit dan Gembira menderita lumpuh, ia pun kembali berusaha menyelamatkan sang kakak yang telah membesarkannya di negeri rantau itu. 

Saat kembali itulah untuk mengangkat kakak kandungya dan kakak iparnya itu gelombang tsunami menerjangnya hingga maut menjemputnya. Mereka pun bertiga terkubur oleh hempasan gelombang air laut.

" Husnaeni ikut tewas setelah kembali ke rumah kakaknya ingin selamatkan Humrah dan kakak iparnya Gembira," ungkap salah seorang keluarga korban Amrullah, Selasa (2/10/2018).

Dan hari ini ketiga jenazahnya sudah tiba di kampung halamannya di Katangka, Desa Batukaropa dan dikubur. 

Korban tewas gempa dan tsunami ini diangkut dengan menggunakan mobil angkutan pribadi. Dengan melewati Poso ke Palopo, Bone dan Sinjai dan tiba di Batukaropa siang tadi. Sore tadi ketiganya sudah dikubur bersama. 

Mereka tidak dikubur di Palu karena atas keinginan keluarganya di Batukaropa meminta di pulangkan. Keluarga mereka patungan untuk membiayai jasa angkutan Rp 15 juta karena tidak ada lagi mobil  ambulance di Palu yang bisa mengangkut ke Bulukumba

Kini tinggal seorang anak Humrah dan seorang anak Husnaeni yang masih hidup selamat. Mereka selamat karena mereka sedang kuliah saat pristiwa gempa dan tsunami tiba. Selain mereka bertiga tewas juga rumah masing-masing rata dengn tanah. Selama ini ketiganya setiap bulan lebaran Idulfitri pulang ke Bulukumba. Dan telah merantau belasan tahun lalu ke Palu dengan membuka usaha dagang beras di kota Palu.

Penulis: Samsul Bahri
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved