Inilah Cerita Andi Kartini Akhirnya ‘Mendampingi’ Andi Seto Bertarung di Sinjai

Pasangan Seto-Kartini diusung Partai Golkar, Gerindra, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Inilah Cerita Andi Kartini Akhirnya ‘Mendampingi’ Andi Seto Bertarung di Sinjai
TRIBUN TIMUR/MUHAMMAD ABDIWAN
Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah melantik Bupati dan Wabup Sinjai, A Seto Ghadista Asapa-A Kartini 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Gubernur Sulsel, Prof Nurdin Abdullah, melantik empat pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah di Baruga AP Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu (26/9/2018).

Keempat pasangan pemenang Pilkada 2018 itu termasuk Bupati dan Wakil Bupati Sinjai, A Seto Ghadista Asapa-A Kartini Ottong. Pasangan ini menggantikan Sabirin Yahya-Fajar Yanwar.

Lalu, bagaimana ceritanya Seto dan Kartini bisa berpaket di Pilkada Sinjai 2018?

Kepada Tribun Timur, Kartini menceritakan, awalnya sosialiasasi sebagai bakal calon (balon) bupati, tanpa berpikir siapa calon paketnya.

Kartini yang Wakil Ketua DPRD Sinjai dari Partai Golkar ketika itu, gencar sosialisasi pada akhir 2017. Hasilnya, namanya makin populer pada awal 2018.

Menjelang pendaftaran pasangan calon di Pilkada Sinjai 2018, Kartini mengaku dihubungi Ketua DPD I Golkar Sulsel, HM Nurdin Halid.

Pelantikan empat kepala daerah di Baruga AP Pettarani, Kampus Unhas, Makassar, Rabu (26/9)
Pelantikan empat kepala daerah di Baruga AP Pettarani, Kampus Unhas, Makassar, Rabu (26/9) (TRIBUN TIMUR/MUHAMMAD ABDIWAN)

Nurdin Halid memintanya mendampingi balon bupati, A Seto Ghadista Asapa, yang putra mantan Bupati Sinjai dua periode, A Rudiyanto Asapa.

"Saat itu, saya tidak bisa menolak dan saya tetap hati-hati, karena Pak Mizar Roem (putra Muh Roem, Ketua DPRD Sulsel) juga kader Golkar dan ikut mencalonkan diri di Pilkada Sinjai 2018," kata Kartini, Senin (24/9/2018).

Keyakinan Kartini untuk maju di pilkada bertambah, setelah orangtua Seto, Rudiyanto Asapa, menemuinya untuk memaketkan pengusaha dan politisi ini. Kartini menyatakan menerima ‘pinangan’ itu.

"Tapi saat itu, saya tetap jaga hubungan politik dengan Pak Mizar, karena orangtuanya (Pak Roem) saya anggap orangtua saya, sebab masih kerabat. Beliau adalah guru politik saya," katanya.

Halaman
12
Penulis: Samsul Bahri
Editor: Insan Ikhlas Djalil
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved