Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Sejarawan: Tugu Pahlawan Itu Outdoor Museum

Dalam ilmu sejarah, tugu pahlawan atau war field memorial di sebuah kota dikategorikan sebagai life museum, museum outdoor

Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Thamzil Thahir
TRIBUN TIMUR/MUH DAVID ARIANTO
Sangat ironis jelang detik-detik perayaan hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 70 tahun. Sebuah tugu Pahlawan Indonesia yang berdiri kokoh didepan Benteng Fort Roterdam. Jl Ujung Pandang Makassar terlihat kusam dan tak terurus. Tugu bersejarah ini terkesan telah dilupakan. 

MAKASSAR, TRIBUN – Sebagai kota kota tua bersejarah, serta melahirkan banyak tokoh pejuang, Kota Makassar, sejatinya mengalokasikan uang dan ruang lapang untuk memelihara ikon memorial.

Selain berfungsi sebagai identitas kota, dan life museum, tugu memorial juga mengambil peran ‘estetika kota.’

Kian banyak tugu, atau cagar budaya yang terpelihara, maka identitas kota itu akan semakin kuat dan para penghuninya memberi penghargaan kepada para pahlawannya.

Prof Dr a Ima Kesuma IC Mpd, sejarawan
Prof Dr a Ima Kesuma IC Mpd, sejarawan (dok_instagram/)

“Dalam ilmu sejarah, tugu pahlawan atau war field memorial di sebuah kota dikategorikan sebagai life museum, museum outdoor,” kata Guru Besar Sejarah Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Dr Andi Ima Kesuma IC Mpd, kepada Tribun, saat dimintai komentar perihal kian terbengkalainya Monumen Pahlawan Indonesia atau yang populer dengan Tugu Pahlawan, sebelah barat benteng Panynyua (Fort Rotterdam) di Jl Ujungpandang, Kelurahan Losari, Kecamatan Ujungpandang, Selasa (10/9/2018)

Prof Ima yang juga mantan Kepala Meseum Kota Makassar ini, menyebutkan areal dan topografi ikon-ikon bersejarah kota harus dia areal lapang, terpelihara, bukan berada di warung dan kedai liar.

“Ini sama dengan Monumen Emmy Saelan di Toddopuli, yang juga kini tidak terpelihara,” ujar Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UNN ini, Selasa (10/9).

Rifal Najering MHum
Rifal Najering M.Hum

Hal senada juga dikemukakan sejarawan UNM lain, M Rifal Najering M.Hum.

Dia menyesalkan terabaikannya tugu pahlawan tersebut. Menurutnya, pembangunan di suatu daerah dapat terus dilakukan, namun tak boleh melupakan peninggalan sejarah.

"Harusnya ini menjadi ikon sejarah di setiap tempat. Tugu tidak dibuat semata-mta begitu saja tetapi ada makna yang ingin disampaikan. Kenapa tugu itu dibangun di dekat jalan, itu maknnya ingin disampaikan ke masyarakat bahwa walaupun pembangunan tetap jalan tapi kita tak bisa lupakan sejarahnya di situ," kata Rifal.

Menurut Rifal, melupakan atau bahkan menghilangkan tugu di suatu tempat, sama saja dengan menghilangkan sejarah tempat itu sendiri.

"Terkait tugu di depan Rotterdam itu, jika itu tak diurus atau bahkan dihilangkan, itu sama saja menghilangkan jejak sejarah di tempat itu. Ketika suatu daerah tanpa jejak sejarah, maka kita akan kehilangan sejarah masa lalu yang merupakan sebuah identitas," tuturnya.

Tugu Pahlawan Indonesia tersebut dibangun di atas lokasi yang menjadi lokasi pendaratan pasukan TNI, usai pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda pada 1949.

Monumen itu dibangun 1951, untuk mengenang ‘pertempuran antara TNI dengan tentara KNIL/NICA” dua hari ( 27-29 Desember 1949), atau 69 tahun silam.

Dari pantauan Tribun, kawasan itu kini jadi areal penumpukan kardus pemulung. Ada beberapa botol minuman keras di tangga undakannya.

Monumen setinggi 10 meter itu, nyaris tertutupi kedai “liar” permanen, di sisi timurnya. Warung tenda sea food, yang saban hari dikenakan “pajak” oleh instansi pemerintah kota, juga kian memperburuk posisi monumen.

Bahkan di sisi utaranya, dalam dua tahun terakhir. Kini dibangun kafe dan resto modern.
Areal Tugu Pahlawan kini jadi lahan parkir kafe dan kedai-kedai liar, hidangan Sari Laut dan tenda minuman segara kelapa muda.

Padahal, sejak dulu, kawasan yang tepat berada di depan gerbang utama Benteng Panynyua itu, adalah lahan kosong. (zal/jum)

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved