Kasus Kematian Ibu Masih Tinggi, Dinkes Sulsel Minta Gowa Belajar ke Bantaeng

Gowa mestinya belajar banyak kepada Dinas Kesehatan Bantaeng, pasalnya angka terendah kematian ibu itu berada di Bantaeng.

Kasus Kematian Ibu Masih Tinggi, Dinkes Sulsel Minta Gowa Belajar ke Bantaeng
TRIBUN TIMUR/SALDY
Plt Kadis Kesehatan Sulsel Dr dr Bahtiar Baso saat menjadi pemateri di pertemuan stakeholder program Jalin USAID Sulsel di Swiss Bel Inn Panakkukang, Jl Beulovard, Makasssar, Kamis (2/8/2018). 

Laporan wartawan Tribun Timur, Saldy

TRIBUN-TIMUR.COM,MAKASSAR - Puskesmas hingga rumah sakit yang ada di Kabupaten Gowa mendapat perhatian khusus dari Dinas Kesehatan Sulsel.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Sulsel Dr dr Bahtiar Baso mengungkapkan perhatian di bidang kesehatan pada kabupaten Gowa ini, karena angka kematian ibu sangat tinggi dibandingkan 24 kabupaten dan kota di Sulsel.

"Ayo kita keroyok sama-sama ini Gowa, bayangkan dari 2016 sampai sekarang banyak ibu yang meninggal usai melahirkan di Puskesmas atau Eumah Sakit," kata dr Bahtiar dalam acara pertemuan stakeholder program Jalin USAID, di Swiss Bell Inn Panakkukang, Jl Beulovard, Makasssar.

Salah satu penyebab sehingga banyaknya ibu yang meninggal dunia di Puskesmas ataupun di RS yang ada di Gowa karena lambatnya pelayanan, serta minimnya ketersediaan alat kesehatan.

Bahtiar pun menyebutkan Gowa mestinya belajar banyak kepada Dinas Kesehatan Bantaeng, pasalnya angka terendah kematian ibu itu berada di Bantaeng.

"Ini data real yah. Kalau bicara data tidak bisa lagi di bantah," katanya.

Menurutnya dengan melakukan pengeroyokan kesehatan di kabupaten Gowa, Dinas Kesehatan Sulsel akan menarget bahwa 2019 angka kematian akan menurun.

Salah satu indikatornya, ini dengan menggenjot akreditasi kepada setiap rumah sakit dan Puskesmas yang ada di Gowa.

Pemberian akreditasi kata dr Bahtiar tentunya dengan menghadirkan standar pelayanan, SDM, hingga alat kesehatan.

Beberapa data yang dimiliki Dinas Kesehatan Sulsel, penyebab ibu meninggal dunia di RS pasca melahirkan setelah melakukan aborsi tidak aman, penyebab diluar jangkauan kesehatan (akses) ke RS jauh, pertolongan persalinan tidak oleh petigas kesehatan terlatih.

Penulis: Saldy Irawan
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved