VIDEO ON DEMAND

VIDEO: Suasana Diskusi Forum Dosen Tribun Bahas Proyeksi Pilpres Pasca Pilkada

Prof Marzuki DEA, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas baru kali pertama hadir pada diskusi forum dosen.

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Proyeksi pemilihan presiden (Pilpres) pasca pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak dan kondisi sosial ekonomi Indonesia, menjadi isu seksi yang dibahas Forum Dosen di Redaksi Tribun Timur Jl Cenderawasih No 430 Makassar, Kamis (12/7/18).

Koordinator Forum Dosen, Dr Adi Suryadi Culla menilai tema diskusi seksi. "Kenapa? Politik dan ekonomi dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Capres harus khatam dua persoalan ini," ujar dosen Fisip Unhas itu membuka diskusi.

Apalagi di periode akhir presiden dan wakilnya, Joko Widodo-Jusuf Kalla terjadi gejolak ekonomi.

"Sebut saja, melemahnya rupiah terhadap Dolar AS, naiknya harga Bahan Bakar Minyak, ketimpangan antara daerah, hingga bertambahnya hutang negara," kata lelaki berkacamata itu.

Dengan kondisi tersebut, apakah elektabilitas petahana mulai goyang? Adakah celah yang bisa dimanfaatkan capres lainnya dengan kondisi tersebut?.

Prof Marzuki DEA, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unhas baru kali pertama hadir pada diskusi forum dosen. Ia didaulat menjadi pematik. Menurutnya, ekonomi jadi jualan bagi capres.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Nitro Makassar itu melihat, ada dua sudut pandang yang berkembang. Secara pragmatis dan idiologis.

"Data-data yang dihadirkan pemerintah mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi, gini rasio, tingkat pengangguran, hingga kemiskinan semuanya itu dilihat secara pragmatis, padahal faktanya di lapangan tidak memiliki pengaruh," ujar Marzuki yang sedang puasa Syawal kemarin.

Secara idiologis, ekonomi yang diharapkan tentunya merata di tiap daerah. "Bagaimana pertumbuhan ekonomi yang tinggi punya pengatuh terhadap kehidupan masyarakat saat ini, tetapi mau tinggi atau pun rendah, tidak ada pengaruhnya kepada masyarakat," ujar lelaki berkacamata itu.

Abdul Madjid Sallatu, rekan Marzuki di FEB Unhas spesifik ke gini rasio. Meski ia sadar, apa yang dibahasnya melenceng dari tema yang diangkat.

"Maaf sebelumnya tak apa saya keluar dari tema. Saya pernah memberi saran kepada Syahrul bagaimana menurunkan gini rasio Sulsel yang berada di atas rata-rata nasional," katanya.

Dalam teori ala Madjid, tiga hal yang harus diperhatikan oleh Syahrul kala masih menjabat sebagai Gubernur Sulsel.

"Kemiskinan, ketertinggalan, dan ketimpangan. Di mana kemiskinan terjadi, ketertinggalan dan ketimpangan pun terjadi, dan sebaliknya bila kemiskinan dapat diatasi, keduanya pun teratasi," ujar pakar Ekonomi itu.

Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Imam Wahyudi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved