Tatkala Sang Legenda Mematikan Titisannya
Les Bleus menggerus dan mengusir pulang Uruguay dengan skor telak 2-0; sedangkan The Red Devils menghancurkan impian
Oleh: Willy Kumurur
Penikmat bola
DALAM SEJARAH, BELGIA ADALAH PANGGUNG REVOLUSI PERANCIS.
Namun di gelanggang sepakbola, Belgia bukanlah panggung bagi Perancis. Mereka sudah berduel sebanyak 73 kali; Belgia unggul dengan 30 kemenangan berbanding 24 kemenangan bagi Prancis. Sedangkan 19 laga lainnya berakhir imbang.
Akhir-akhir ini Perancis sukar menang atas Belgia. Di lima pertemuan terakhir di semua kompetisi, Les Bleus hanya menang satu kali, dua kali imbang, dan dua kali kalah, termasuk laga di Stade de France - Paris tatkala Belgia menang 4-3.
Dua super power Eropa ini baru saja mengeliminasi dua tim kuat Amerika Latin.
Les Bleus menggerus dan mengusir pulang Uruguay dengan skor telak 2-0; sedangkan The Red Devils menghancurkan impian tim samba Brasil 2-1.
Keraguan mengelantung di langit harapan fans Setan Merah tatkala Roberto Martinez diangkat sebagai pelatih Belgia pada bulan Agustus 2016.
Hal ini dapat dimaklumi karena Martinez baru saja dipecat oleh klub Everton di Liga Premier Inggeris. Apalagi, masa kepelatihannya diawali dengan kekalahan 0 - 2 dari Spanyol.
Namun, sejak saat itu Belgia tak terkalahkan dalam 23 pertandingan dan telah mencetak 78 gol. Bersama legenda dan top scorer sepanjang masa Perancis, Thierry Henry sebagai asisten pelatih, Martinez dan tim asuhannya memimpin perolehan angka di Rusia dengan 14 gol dalam lima pertandingan Piala Dunia.
Sebagai asisten Martinez, Thierry Henry sibuk merancang-bangun strategi dan taktik untuk kejatuhan tim nasionalnya sendiri. Henry akan berhadapan dengan Didier Deschamps, mantan rekannya di timnas Perancis.
Thierry juga sedang memikirkan cara bagaimana “mematikan” pemain yang disanjung setinggi langit: Kylian Mbappe.
Mbappe adalah pemain muda yang mengagumi Henry dan disebut-sebut sebagai titisan Henry.
Dengan daftar pemain termuda kedua terbanyak di Piala Dunia kali ini, Perancis tidak menunjukkan rasa takut dan dengan gempita maju ke semifinal Piala Dunia pertama sejak 2006.
Barisan pemain muda itu dipimpin oleh Kylian Mbappe yang berusia 19 tahun dan sepasang bek serang yang minim berpengalaman, yaitu Benjamin Pavard dan Lucas Hernandez.
Mbappe amat antusias berjumpa dengan idolanya, Thierry Henry, yang justru membela tim lawan.
"Thierry lagi adalah orang yang amat kusukai. Kami saling respek. Dulunya ia adalah pemain hebat, ia adalah inspiratorku," kata bintang muda Paris Saint Germain itu.
“Sayang sekali, ia duduk di bersama tim lawan.”
"Kami tak takut kepada siapa pun," ujar Pavard.
"Sejak awal kami telah yakini." Pelatih Didier Deschamps, yang menjadi kapten tatkala Perancis memenangkan Piala Dunia 1998 dan Kejuaraan Eropa 2000, telah menanamkan mentalitas baja.
"Dia memotivasi pasukan dengan kata-kata yang kuat," kata Pavard.
"Kami siap maju ke gelanggang untuk berperang bersama Deschamps."
Sepakbola menjadi kompleks karena kehadiran tim lawan, tutur Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialisme Prancis.
Kompleksitas itu dihadirkan oleh perbenturan ide, filosofi, dan eksekusi di lapangan hijau.
Lapangan hijau itu adalah Stadion Saint Petersburg yang akan menjadi panggung revolusi pertempuran antara Perancis dan Belgia.
Mereka akan saling menggerus untuk meraih sebuah tiket ke final.****