PT Unggul Bantah Lakukan Pemutusan Jalan Tani di Baras Pasangkayu, Begini Penjelasannya

Alasan pemutusan jalan karena dijadikan sebagai jalur pencurian buah sawit perusahaan untuk dibawa ke daerah Sarudu.

Penulis: Nurhadi | Editor: Hasriyani Latif
nurhadi/tribunsulbar.com
Manager Kebun Inti PT Unggul Baras I, Abd Kadir Samming 

Laporan Wartawan TribunSulbar.com, Nurhadi

TRIBUNSULBAR.COM, PASANGKAYU - Manajemen PT Unggul Widya Teknologi Lestari membantah telah melakukan pemutusan jalan tani masyarakat di Afdeling Baribi, Kecamatan Baras, Kabupaten Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar).

Sebelumnya diberitakan, perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit itu diduga melakukan pemutusan jalan tani yang berstatus sengketa dengan masyarakat.

"Wacana di media bahwa kami melakukan pemutusan jalan desa itu keliru, yang kita putus adalah jalan produksi perusahaan. Kita sendiri yang membuat jalan itu karena memang itu adalah areal kebun perusahaan yang selama ini diklaim oleh beberapa kelompok kerja," kata Manager Kebun Inti PT Unggul Baras I, Abd Kadir Samming kepada TribunSulbar.com, Selasa (5/6/2018).

Ia menjelaskan, alasan pemutusan jalan tersebut karena dijadikan sebagai jalur pencurian buah sawit perusahaan untuk dibawa ke daerah Sarudu menggunakan kendaraan roda dua dan mobil yang kerap dilakukan pada malam hari kemudian dijual kepada para tengkulak.

"Kami putus dalam rangka minimalisir pencurian buah. Karena selama empat tahun kurang lebih 300 hektare kebun kami mereka klaim paksa, kadang-kadang kalau karyawan kami masuk dikejar pakai parang, tapi kalau petugas datang mereka hilang," tuturnya.

Baca: PT Unggul Diduga Putus Akses Jalan Tani di Baras Pasangkayu, Ini Masalahnya

Baca: Tanggul Sungai Lariang Pasangkayu Jebol, 200 KK Terisolir

"Mereka (petani) tidak punya kepentingan atas jalan ini karena ini bukan jalan desa, kecuali dijadikan jalur untuk mencuri buah. Bapak liat sendiri toh kondisi jalan ini, jadi mereka hanya menyebarkan issu menggunakan media massa bahwa itu jalan adalah desa, padahal bukan karena ini areal perusahaan," lanjutnya.

Dikatakan, pihaknya memiliki kekuatan hukum atas status lahan jalan yang diserobot secara paksa oleh beberapa kelompok kerja yang ditengarai dibekingi oleh aktor politik.

"Masalah sengketa itu muncul sejak lama dan berprosesnya sudah masuk di ranah hukum. Namun pada tahun 2013 PT Unggul dinyatakan menang. Dari situlah banyak kelompok kerja yang pecah, setelah komando mereka bernama Agung dipenjara atas kasus pembakaran escavator PT Teletawa," ungkapnya.

Dari situ, lanjutnya, beberapa warga dari luar daerah termasuk H Buri dari Enrekang membeli lahan secara sporadik pada Pak Yaumil adik Bupati. Dulu kelompok kerjanya bernama Tarangge Raya, lahan mereka dilepaskan oleh kehutanan di daerah Sarudu 1.100 hektare. Inilah yang dijual kepada H Buri, Haris, dan Fitri.

Namun, belakangan, H Buri diketahui hanya berhubungan dengan makelar tanah Pak Yaumil, bernama Amir dan Lomor. Parahnya, ternyata lahan yang dibeli para pendatang yang ada di Sarudu tidak sesuai dengan harapan para pembeli.

"Tiba-tiba makelar tunjuk kebungnya PT Unggul. Masuklah mereka mengklaim karena katanya lahan ini yang ditunjukan Lomor. Setelah Lomor dipanggil dia mengaku sudah ganti rugi dan uang telah dikembalikan," katanya.

Karena terus-terus terjadi sengketa, akhirnya terjadi proses dimediasi dari aparat kepolisian dari Polres Mamuju Utara. Kala itu, kata dia, masing-masing pihak membawa bukti. Namun, para pembeli tanah hanya membawa kuitansi pembelian.

"Dari segi administrasi lahan kami masuk Kecamatan Baras, sementara yang mereka beli masuk di wilayah Kecamatan Sarudu. Dari sini saja sudah keliru. Nah sekarang karena para kelompok ini sudah meresa kuat tidak lagi mau jalur hukum, murni serobot karena meresa dibekingi, dan sampai sekarang terus mengambil buah dan dijual kepada tengkulak. Kami juga tidak mau tinggal diam karena ini pencurian," jelasnya.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved