OPINI

OPINI Dosen UIN Alauddin: Mengembalikan Makna Hijab

Hijab telah menjelma menjadi fashion, mode, gaya, yang biasanya tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonomi dan bisnis. Lalu,letak syar’i-nya?

OPINI Dosen UIN Alauddin: Mengembalikan Makna Hijab
Muhaemin Latif 

Hijab idealnya tidak boleh mendemonstrasikan kesombongan dan kepongahan terutama di ruang-ruang publik. Hijab tidak boleh lekang oleh perkembangan zaman.

Hijab syar’i akan menempatkan para muslimah sebagai perempuan-perempuan terhormat. Bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi di tengah-tengah masyarakat.

Para muslimah tidak hanya dihormati karena penampilannya secara fisik, tetapi secara etis, budi perangainya akan menjadi tolak ukur.

Bukankah Nabi Muhammad saw telah memberikan warning keras kepada kita, “bahwa Tuhan sama sekali tidak memandang bentuk fisik kamu.

Tetapi Tuhan akan memandang hati kamu”.

Bahkan dalam QS al-A’raf: 26, disebutkan bahwa pakaian ketakwaanlah yang menjadi pakaian terbaik bagi anak cucu Adam.

Hijab Syar’i pada akhirnya tidak hanya menjadi arena pertarungan simbol-simbol keislaman, bukanpula ekshibisi bentuk kesalehan formal, tetapi hijab adalah perebutan makna kehormatan perempuan yang sesungguhnya yang melampaui makna-makna simbolik.

Semoga tulisan ini bisa mengembalikan makan hijab yang sesungguhnya. Selamat menjalankan ibadah puasa. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

Catatan: Opini di atas telah dimuat di halaman Opini di Tribun Timur edisi cetak, Rabu 30 Mei 2018

Editor: Jumadi Mappanganro
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved