MIWF 2018

Belajar Menulis Narasi Kisah Perjalanan bersama Windy Ariestanty

Salah satu penulis yang menjadi pembicara di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 adalah Windy Ariestanty.

Belajar Menulis Narasi Kisah Perjalanan bersama Windy Ariestanty
DOK. TIM MEDIA MIWF
Travel Blogger, Windy Ariestanty menjadi salah satu pembicara di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018, Rabu (3/5/2018) 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-Salah satu penulis yang menjadi pembicara di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2018 adalah Windy Ariestanty

Windy merupakan travel blogger yang memilih genre narasi untuk mengisahkan perjalanan-perjalanan yang telah ia lakukan.

Selain lewat blog, mantan editor-in-chief penerbit Gagas Media Group ini meuliskan narasi perjalanannya melalui sebuah buku berjudul Life Traveler. Beberapa tulisannya juga dipublikasikan di majalah-majalah traveling.

Di MIWF 2018, Windy berbagi ilmu bagaimana mengisahkan sebuah perjalanan dengan cara bernarasi. Baginya, bernarasi merupakan salah satu medium untuk merawat ingatan tentang apa yang ia dapatkan selama perjalanannya.

Namun beberapa waktu lalu, saat berkunjung ke Tentena, Palu, ia kembali diingatkan tujuan dari narasi itu sendiri. Baginya, narasi adalah salah satu bentuk perlawanan.

"Menulis narasi perjalanan bukanlah tentang destinasi, melainkan tentang orang-orang di balik tempat yang kita datangi,"katanya dalam sesi Workshop Narrative Travel Writing di Fort Rotterdam, Rabu (3/5/2018).

Jika menulis kisah perjalanan berfokus pada destinasinya, hal tersebut tak ubahnya seperti pada masa kolonialisme, seperti orang-orang Belanda yang mengabarkan mereka telah sampai ke sebuah tempat.

Seperti kala berkunjung ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, ia menemukan fakta yang merubah sejarah. Dimana, ia menemukan layang-layang tertua ada di Muna, bukan dari Tiongkok. Ataupun kisah mengapa orang-orang di Kamboja senang makan serangga. Ia menemukan, jaman dulu orang Kamboja harus masuk hutan dan mencari serangga untuk bertahan hidup.

Narasi-narasi seperti inilah yang menurutnya penting untuk dituliskan dan dibagi kepada pembaca.

"Hal pertama yang harus dilakukan untuk menulis sebuah narasi adalah cari hal penting untuk dikisahkan. Kemudian gali cerita-cerita dari tempat yang kita datangi. Jangan lupa tetapkan tujuan dari tulisan yang kita buat. Tujuan ini yang akan membuat tulisan lebih fokus,"katanya.

Selain itu, buatlah storyline, kumpulkan pengalaman dan dialog-dialog menarik selama perjalanan, dan temukan karakter-karakter yang bisa menjadi bahan tulisan.

"Semua ini tak akan diperoleh, tanpa adanya interaksi. Karena menulis kisah perjalanan adalah menulis interaksi yang kita lakukan dengan orang-orang yang ada di tempat tersebut,"jelasnya.

Saat ini, Windy tengah sibuk menuliskan narasi mengenai Ranta. Ranta adalah baju adat dari Lembah Bada di Sulawesi Tengah yang terbuat dari kulit kayu dan tercancam punah.

Pengrajin Ranta pun semakin berkurang. Bahkan, jumlahnya bisa dihitung jari. Mencari narasi tentang Ranta, ia pun bertemu dengan Mama Beri. Mama Beri adalah salah satu pengrajin Ranta yang masih berupaya menjaga kearifan lokal masyarakat Lembah Bada.(*)

Penulis: Anita Kusuma Wardana
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved