Terminal Bayangan Marak, Ini Saran Pengamat Transportasi

Di satu sisi harus dilarang terminal bayangan di luar, di sisi lain kinerja layanan dalam terminal diperbaiki.

sanovra/tribuntimur.com
Kondisi Terminal Regional Daya (TRD) yang terlihat sepi tanpa aktifitas terekam dari udara di Daya, Makassar, Selasa (3/4/2018). TRD adalah terminal penumpang tipe A dan merupakan terminal induk yang ada di Kota Makassar. 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Terminal angkutan darat, khususnya di Kota Makassar mulai sepi dan ditinggalkan penumpang. Banyaknya permasalahan di terminal, ditambah munculnya terminal bayangan membuat terminal umum semakin ditinggalkan.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah sepinya penumpang di terminal dan munculnya terminal bayangan?

Berikut ulasan pengamat transportasi, Prof Lambang Basri.

Terminal bayangan itu sudah perlu ada pengaturan dan pelarangan. Dengan adanya terminal bayangan, fungsi jalan nasional tidak berjalan sebagaimana mestinya. 

Baca: Pendapatan Makin Menurun, Begini Curhat Pedagang di Terminal Mallengkeri Makassar

Baca: Terminal Regional Daya Makassar Tak Terawat, Atap Bocor, Pendapatan Tergerus Hingga Rp 1 Miliar

Memang keduanya mendapat manfaat, pengguna lebih mudah mendapat akses tidak perlu lagi jauh-jauh masuk terminal, pengelola angkutan juga merasa lebih mudah mendapatkan penumpang.

Di terminal bayangan mereka bisa bersantai ngopi dan sebagainya, tidak perlu lelah cari penumpang kiri kanan, pokoknya mereka lebih mudahlah.

Selain itu, tidak ada lagi retribusi ke terminal. Ini jadi daya tarik juga sehingga mereka lebih memilih terminal bayangan. Kalau mau peraturan berwibawa, pihak terkait harus mengawasi terminal bayangan 24 jam.

Halaman
123
Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved