Harga Gabah Anjlok, Petani Maros Menjerit
Sejumlah petani dari Maros, khususnya di Desa Alatenggae, Kecamatan Bantimurung, mengeluh dan terancam rugi akibat harga gabah yang anjlok.
Penulis: Ansar | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur, Ansar Lempe
TRIBUN-TIMUR.COM, MAROS - Sejumlah petani dari Maros, khususnya di Desa Alatenggae, Kecamatan Bantimurung, mengeluh dan terancam rugi akibat harga gabah yang anjlok.
Kepala Desa Alatengae, Abdul Asis mengatakan, Kamis (29/3/2018) harga gabah saat ini turun drastis kirasan Rp 1.000 perkilogramnya. Hal itu membuat petani was-was.
Baca: Harga Gabah Anjlok, Aliansi Anak Petani Pinrang Lakukan Ini
Baca: Tahan Truk Gabah, Komandan Kodim Minta Maaf ke Petani Maros. Ini Pembelaan Bulog
Para pedagang sudah membanting harga dari Rp 4.700 sampai Rp 5.000 perkilogram turun ke Rp 3.800. Padahal di Desa Alatengae, masih ada 350 hektare yang belum dipanen.
"Petani termasuk saya mengeluh. Harga gabah saat ini anjlok. Awal-awalnya harga kisaran Rp 4.700 sampai Rp 5.000 perkilogram. Tiba-tiba jatuh ke Rp 3.800 per kilogram. Di Maros masih banyak yang belum panen. Kalau di daerah saya, masih ada 350 hektre padi," katanya.
Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Maros ini melanjutkan, sejak harga gabah anjlok beberapa hari terakhir, sejumlah petani kerap menemuinya dan curhat.
Baca: Gabahnya Ditahan Tentara, Puluhan Petani Serbu Markas Kodim Maros
Namun Asis tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya menampung semua curhatan petaninya. Dinas Pertanian Maros juga belum bereaksi pasca anjloknya harga.
"Saya mau bagiamana lagi, kalau ada petani yang datang mengeluh. Saya juga salah satu petani yang sementara memanen. Saya hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/petani-maros_20180329_122934.jpg)