Tingkat Perceraian Tinggi, Ini Saran Kasi Bimas Islam Kemenag Enrekang

Menurutnya, meningkatnya jumlah perceraian dalam kurun waktu tiga tahun terakhir lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Tingkat Perceraian Tinggi, Ini Saran Kasi Bimas Islam Kemenag Enrekang
m azis albar/tribunenrekang.com
Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Enrekang, Syawal Sitonda 

Laporan Wartawan TribunEnrekang.com, Muh Azis Albar

TRIBUNENREKANG.COM, ENREKANG - Tingginya tingkat perceraian di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, mendapat respon dari Kasi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag Enrekang, Syawal Sitonda.

Menurutnya, meningkatnya jumlah perceraian dalam kurun waktu tiga tahun terakhir lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Di antaranya adalah faktor kesejahteraan khususnya bagi kaum golongan atas, karena merasa mampu secara ekonomi sehingga dengan mudah melakukan perselingkuhan yang berbuntut pada perceraian.

Selain itu, pengaruh media elektronik yang sudah sangat terbuka untuk diakses oleh siapa saja. Sehingga terbuka ruang komunikasi tanpa ada batasan dan membuka ruang konflik dalam rumah tangga.

"Termasuk juga fenomena pernikahan dini, jadi banyak remaja yang belum matang untuk menikah, akhirnya terjadi kesenjangan ekonomi akibatnya juga mengarah pada perceraian," kata Syawal kepada TribunEnrekang.com, Selasa (27/3/2018).

Baca: Ratusan Gugatan Perceraian Ditangani PA Enrekang, Pemicunya 3 Faktor Ini

Baca: 377 Gugatan Cerai Masuk PA Bone, Resmi Jadi Janda Sebanyak Ini

Untuk itu, lanjut Syawal, pihaknya meminta kepada jajaran Bimas Islam seperti KUA di kecamatan-kecamatan untuk membuat program yang lebih jitu dalam memberi bimbingan kepada pasangan yang akan menikah.

Termasuk, juga memberi bimbingan pernikahan kepada pasangan yang lebih mudah atau tergolong pernikahan dini.

Faktor lain yang harus lebih ditingkatkan adalah pemahaman agama para pasangan, agar mereka bisa lebih kuat dalam mempertahankan keluarganya.

"Kita juga bisa beri bimbingan pra nikah kepada remaja usia sekolah, seperti kelas 3 SMA, agar memberikan pengetahuan terkait dampak pernikahan dini, jadi sebelum menikah mereka sudah siap dan punya ilmu agar lebih matang dalam membina keluarga," jelasnya.

Sebenarnya, kata dia, ada program bimbingan perkawinan yang dijalankannya selama ini. Namun, hal itu belum terlalu optimal karena baru menjangkau 10 persen para pasangan yang ada saat ini.(*)

Penulis: Muh. Asiz Albar
Editor: Hasriyani Latif
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved