Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Catatan HUT 45 Bosowa: Bosowa dan "Takdir" Bisnisnya; Dari Timur Matahari Terbit

Pendiri (founder) Bosowa Aksa Mahmud, HM Jusuf Kalla dan tokoh "timur" lainnya, berbusa bicara tentang keadilan pembagian kue pembangunan.

Tayang:
Editor: Mansur AM
Founder Bosowa Aksa Mahmud (kiri) menghadiri perayaan HUT ke-45 tahun Bosowa Corporation di Kantor PT Bosowa Berlian Motors, Jl Urip Sumoharjo, Makassar, Kamis (22/2/2017). Ratusan karyawan Bosowa dari berbagai anak perusahaan hadir memeriahkan acara ini dan beberapa kuliner asli Makassar disediakan seperti, Pallubasa Serigala, Bakso Ati Raja, Ikan bakar Paotere, dan aneka kuliner. TRIBUN TIMUR/SANOVRA JR 

TRIBUN-TIMUR.COM - Dari timur matahari terbit. Sebuah ungkapan sarat makna, luas, dalam, magis, bahkan religius.

Kerap kali digunakan untuk menggambarkan sesuatu sebagai takdir, ketentuan Ilahi yang tak dapat ditolak.

Seperti itulah juga Bosowa, ditakdirkan lahir dan berkembang di Makassar, bagian timur Negara Kesatuan Republik Indonesia, kemudian merambah Nusantara.

Di sini pula, di Makassar, pada era Soeharto, ketika kebijakan pembangunan Indonesia masih "jawa sentris", ketidakadilan cuma dibahas bisik-bisik.

Pendiri (founder) Bosowa Aksa Mahmud, HM Jusuf Kalla dan tokoh "timur" lainnya, berbusa bicara tentang keadilan pembagian kue pembangunan.

Founder Bosowa Corporation, Aksa Mahmud di sela perayaan HUT ke-45 Bosowa Corp di kantor PT Bosowa Berlian Motor (BBM) Jl Urip Sumoharjo, Kamis (22/2/2018).
Founder Bosowa Corporation, Aksa Mahmud di sela perayaan HUT ke-45 Bosowa Corp di kantor PT Bosowa Berlian Motor (BBM) Jl Urip Sumoharjo, Kamis (22/2/2018). ()

Lantang mereka berteriak tentang ketidakadilan, menuntut keadilan, namun hasilnya cuma seperti bisikan di tengah badai gurun pasir.

Berteriak, atau menangisi kondisi ketimpangan tiada guna.

Meratapi kegelapan juga sia-sia.

Jauh lebih baik menyalakan lilin. Jauh lebih berarti dan bermakna jika bertindak, sekecil apa pun.

Itulah sikap dan langkah pendiri Bosowa, juga Kalla Group.

Dua korporasi ini ditakdirkan lahir menacapkan pondasi bisnisnya, yang kemudian mengakar kuat di Makassar.

Ketika berusia seperempat abad, Bosowa lompat kwadran bisnis dari jasa dan perdagangan ke industrialisasi.

Ditandai dengan pembangunan pabrik semen di Maros.

Namun, krisis ekonomi dan keuangan menghantam, menyapu habis bisnis konglomerasi nasional.

Bosowa pantang surut, tetapi bertarung mengatasi badai krisis. Tidak memunggungi ibu pertiwi dan Tanah Air.

Apalagi melarikan diri dan menyembunyikan aset ke luar negeri seperti yang dilakukan banyak pengusaha besar.

Karena takdir pula (doa dan ikhtiar), Bosowa selamat dari amukan badai krisis yang amat dahsyat.

Seperti matahari terbit di timur kemudian terus memuncak menuju ke barat.

Bosowa bukan hanya membangun di Indonesia Timur, juga merambah kawasan barat, hampir ujung barat nusantara.

Founder dan manajemen Bosowa membangun Bosowa Semen di Batam.

Akhir tahun 2016 lalu, Bosowa menambah lembaran sejarah dan catatan takdir bisnisnya.

Dua proyek monumental, yaitu pabrik semen dan terminal elpiji di Banyuwangi, diresmikan.

Disebut monumental bukan hanya karena nilai investasinya besar, sekitar dua triliun rupiah.

Monumental juga karena manfaatnya bagi Jawa Timur, Bali, dan sekitarnya, yang diakui Gubernur Sukarwo, cukup signifikan dalam perekonomian wilayah dan masyarakatnya.

Bosowa tak ubahnya perahu pinisi yang berlayar.

Terkadang layarnya robek diamuk badai.

Tetapi karena jiwa-jiwa petarung yang mengendalikannya, disertai doa-doa ijabah pendiri, alim ulama, pekerja, Bosowa selalu selamat dan lolos dari amukan badai.

"Setiap kesusahan itu ada hikmahnya. Seperti sekarang, bisnis sedang surut, kita kesusahan. Tetapi hikmahnya, kita harus melakukan revisi, kembali mengevaluasi diri dan memperbaiki apa yang kurang," kata HM Aksa Mahmud, dihadapan jajaran direksi, dalam acara Tudang Sipulung, serangkaian syukuran memperingati hari jadi Bosowa ke-45, Kamis 22 Februari 2018.

Ketika kondisi bisnis menurun, seperti sekarang, hal paling pertama yang dipikirkan Bosowa bukan hanya bagaimana menyelamatkan modal, lebih penting bagaimana menyelamatkan karyawan.

Saat ini terdapat sekitar 6.000-an karyawan organik. Di luar itu, ada sekitar 3.000-an pekerja, seperti buruh pelabuhan. Ditambah lagi sekitar 5.000-an orang yang mendapat pekerjaan dari bisnis Bosowa.

Jumlah itu jauh lebih besar dibandingkan pegawai negeri di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan sekitar 10.000-an, yang dibayar negara.

Sungguh berat beban moral Bosowa memikul tanggungjawab itu.

Jika rata2 pekerja Bosowa itu menanggung tiga orang (satu istri atau suami dan dua anak) berarti ada sekitar 42 ribuan orang yang menggantungkan hidupnya pada Bosowa.

Belum lagi pajak nasional dan pajak daerah sampai retribusi yang harus dibayar kepada negara dan daerah. Itulah kontribusi Bosowa untuk pembangunan daerah, bahkan negara dan bangsa ini. Amat besar...!(tribun-timur.com)

Andi Suruji
Andi Suruji ()

Andi Suruji

Wartawan Senior 

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved