Bom Pipa Meledak di Polsek Bontoala, Guru Besar Hukum Unibos: Ini Sebuah Sinyal

Markas Polsekta Bontoala di Jalan Sunu yang bersebelahan dengan Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, dilempari bom oleh orang tak dikenal

Bom Pipa Meledak di Polsek Bontoala, Guru Besar Hukum Unibos: Ini Sebuah Sinyal
TRIBUN TIMUR/SALDY
Akademisi Universitas Bosowa Makassar, Prof Marwan Mas

Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-- Markas Polsekta Bontoala di Jalan Sunu yang bersebelahan dengan Masjid Al Markaz Al Islami, Makassar, dilempari bom oleh orang tak dikenal, Senin (1/1/2018) sekitar pukul 03.00 Wita dinihari.

Dalam kejadian itu, Kapolsekta Bontoala Kompol Rapiuddin dan seorang anggotanya, Brigadir Yudirsan terluka akibat terkena serpihan ledakan bom.

Menanggapi kejadian itu, Guru Besar Hukum Universitas Bosowa, Prof Marwan Mas punya pandangan sendiri terkait kasus itu. Berikut ulasannya:

Selama ini, atau belakangan 2-3 tahun terakhir teroris sasarannya selalu aparat kepolisian, atau kantor polisi. Alasan mereka adalah karena polisi yang selalu menghalangi kegiatan mereka untuk berjihad.

Kendati demikian, saya kira ini bagian untuk memberi momentum atau sinyal. Kalau memang ini jaringan teroris, maka malam tahun baru itu waktu yang tepat untuk memperingatkan warga Sulsel bahwa saya ada di sini, hati-hati untuk polisi.

Yang kita pertanyakan adalah kenapa hal ini tidak terdeteksi oleh Densus 88. Awal Desember ada penangkapan di daerah Jawa, ada teroris yang bisa ditangkap tapi kenapa yang di luar Jawa itu sulit dideteksi. Ini yang menjadi pertanyaan untuk teman-teman Densus. Setelah pengeboman terakhir di Jakarta, hampir dua tahun tak ada lagi kejadian, hingga akhirnya pindah ke Makassar.

Kedua, Aparat kepolisian perlu hati-hati, khususnya Densus. Ini disinyalir ada lebih dari 100 warga Indonesia yang kembali dari Suriah setelah ISIS kalah di sana, ini yang harus diawasi betul. Ada juga yang mengaitkan bahwa ini bagian tahun politik sebagai peringatan. Tapi saya kira ini tak ada kaitannya dengan politik.

Kalau memang terorisme murni, tidak ada hubungannya dengan politis. Mereka melakukan itu dengan ideologi sendiri untuk melakukan jihad.

Dengan jihad mereka merasa masuk surga, kalaupun terjadi pada tahun politik atau mendekati masa politik, itu hanyalah momen yang mereka cari, karena pada saat itu bisa jadi aparat kepolisian tidak terlalu ketat mengawasi mereka karena lagi sibuk mengamankan setiap tahapan proses politik.

Saya kira ini harus diendus dan diungkap dengan baik, karena jangan sampai ini jadi momentum pertama dan jika tidak diungkap akan terus berlanjut. Polisi menyebut kejadian ini tidak ada kaitannya dengan kelompok-kelompok tertentu, mungkin maksudnya kelompok garis keras Islam, tetapi kita bisa curiga kalau ada bom yang diledakkan meskipun daya ledaknya rendah, namun mengandung bahan seperti paku dan baut, melihat pengalaman selama ini teroris selalu seperti itu.

Saya kira ini adalah jaringan terorisme yang mungkin tidak terlalu dicurigai atau terdeteksi oleh Densus, atau mungkin jaringan baru yang tak terdeteksi atau orang yang baru kembali dari ISIS di Suriah.

Aparat kepolisian di Makassar sedang diuji, apalagi Densus kan sekarang sudah tidak di Polda-polda tapi sudah ditarik ke Mabes Polri, meski yang melaksanakan itu masih di Polda tapi secara personel tidak ada lagi di Polda-polda.

Saya melihatnya, ada perspsi dari kepolisian bahwa kejadian ini tidak mempengaruhi dan masyarakat tenang-tenang saja. Itu memang betul, masyarakat diam saja karena persepsi masyarakat bahwa teroris sekarang tidak meledakkan tempat hiburan atau kantor kedutaan asing, tapi mengincar aparat sehingga mereka masih tenang-tenang saja.

Tapi boleh jadi sasaran berikutnya dialihkan ke perjuangan awal mereka terutama kantor negara-negara asing misalnya Amerika dan kelompoknya, ini yang harus diwaspadai. Jangan hanya polisi atau kantor polisi yang bersiaga, karena jangan sampai sasaran mereka berubah, kembali ke sasaran jihad yang sesungguhnya yaitu menghantam negara asing. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved