Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Energi Kita Energi Pertamina

Saharuddin - Terima Kasih Pertamina: Ungkapan Sederhana Dariku dan Cita-Citaku

Tahun 2005, saya kuliah di Makassar di salah satu universitas negri di daerah Parang Tambung, Kec. Tamalate, Makassar

Editor: Rasni
Ilustrasi Pertamina 

TRIBUN-TIMUR.COM - Ini adalah artikel nominasi lomba penulisan yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero) MOR VII Sulawesi kerjasama dengan Tribun Timur.

Penulis: Saharuddin

Saya lahir di tengah lingkungan petani dan nelayan, di daerah Galesong, tepatnya di Bontolanra tidak terlalu jauh dari Barombong. Orang tua saya adalah petani dan beberapa kerabat kami ada juga yang nelayan. Sejak kecil kami sudah akrab dengan solar, bensin dan minyak tanah. ibu kami memasak menggunakan kompor minyak tanah saat itu, bapak kami mengolah tanah lading dan sawah serta mengairi tanaman di sawah dan ladang menggunakan solar maupun bensin. Beberapa paman saya adalah pelaut di daerah Jonggoa, Batu-Batu dan Soreang, Galesong Utara. Mereka hidup dari melaut, mereka kadang membeli bergalon-galon solar dan bensin untuk melaut beberapa hari bahkan sebulan di lautan. Ketersediaan bahan bakar minyak sangat penting bagi kami.

Setiap musim panen tiba, hasil ladang dan sawah di daerah kami berupa sayuran, buah, padi serta hasil pangan lainnya diangkut ke Makassar oleh yang kami sebut ‘pagandeng’. Rata-rata pagandeng pada saat itu menggunakan sepeda motor, beberapa masih menggunakan sepeda dan hanya sedikit sekali yang menggunakan mobil bak terbuka. Begitupun di daerah pesisir, biasanya mereka membongkar hasil tangkapan berupa ikan, udang dan cumi-cumi di daerah pelelangan ikan di daerah Beba, Tamasaju Kec. Galesong Utara, dari sana ikan-ikan itu akan diedarkan ke kampung-kampung dan ke kota-kota seperti Makassar oleh para penjual ikan dan para pembeli skala besar yang menggunakan mobil. Baik para pengepul hasil pertanian maupun hasil laut sama-sama sangat membutuhkan keberadaan bahan bakar terutama dalam hal pendistribusian. Dari hasil menjual pangan dan hasil laut itulah kami bisa dihidupi dan disekolahkan oleh keluarga kami.

Sejak bersekolah di SMA, saya dan beberapa anak di kampung saya menjadi langganan mobil angkutan yang kami sebut pete-pete karena jarak rumah kami ke sekolah terbilang jauh, sekitar 12 kilometer, kadang kalau sedang tidak ada pete-pete kami akan menunggu ojek yang saat itu antara tahun 2002 sampai tahun 2005 masih sangat sedikit jumlahnya apalagi di kampung kami. Dan kalau sampai tidak ada pete-pete atau ojek maka kami terpaksa menumpang pada pengendara angkutan lain seperti pengendara sepeda motor yang kebetulan lewat, pengendara mobil bak terbuka maupun mobil pengangkut bahan bangunan seperti pasir, semen dan batu bata. Bahkan untuk ke sekolahpun kami sangat bergantung pada bahan bakar solar dan bensin, termasuk juga minyak pelumas.

Tahun 2005, saya kuliah di Makassar di salah satu universitas negri di daerah Parang Tambung, Kec. Tamalate, Makassar. Saya menyewa kamar di dekat kampus, sebagai mahasiswa kadang saya masak sendiri menggunakan kompor gas atau kompor minyak tanah yang ada di dapur bersama. Setiap akhir pekan juga saya kadang ke Benteng Rotterdam untuk ‘berburu’ turis atau ikut pertemuan-pertemuan guna meningkatkan bahasa Inggris saya. Kadang juga akhir pekan saya sempatkan ‘pulang kampung’ ke Galesong bertemu dan berkumpul dengan keluarga. Biasanya senin pagi-pagi sekali kembali ke Makassar untuk kuliah. Aktivitas saya kebanyakan menggunakan angkutan umum apalagi awal-awal masa kuliah dan di masa-masa dimana saya bekerja paruh waktu sebagai instruktur bahasa Inggris di salah satu lembaga kursus di daerah Sungguminasa, menjelang akhir kuliah baru saya memiliki kendaraan sendiri, sebuah sepeda motor. Kegiatan-kegiatan saya sangat didukung oleh bahan bakar minyak.

Selesai kuliah saya kemudian bekerja sebagai guru honorer di salah satu SMP negri di ibukota kecamatan hingga akhirnya saya diterima di salah satu sekolah Islam swasta terbaik di Sulsel. Awalnya saya di tempatkan di salah satu cabangnya di Kabupaten Bone, setelah empat tahun mengabdi di sana saya lalu dipindahkan ke salah satu cabangnya di Makassar, tepatnya di daerah Antang. Aktivitas saya selama mengabdi sebagai guru tidak terlepas dari bahan bakar minyak, sangat menunjang kegiatan saya.

Saat ini saya masih terus berkiprah di dunia pendidikan, setiap pagi setelah salat subuh, saya membelah jalanan dari P  allangga, Kabupaten Gowa menuju Makassar melalui Jalan Metro Tanjung Bunga menggunakan sepeda motor kebanggaan saya (yang saya beli dari hasil mengajar saya selama ini) demi mengabdikan diri pada salah satu lembaga pendidikan yang layak dibanggakan.

Kalau diingat-ingat lagi apa yang telah saya raih sekarang, meskipun tampak sederhana dan belum layak dibanggakan, ada peran Pertamina di dalamnya. Terima kasih Pertamina telah menemani perjuanganku, energimu telah mengantarkanku kepada cita-citaku mencerdaskan anak-anak Indonesia. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved