Energi Kita Energi Pertamina
Muhammad Kadafi R - Pertamina Andalanku
Hari demi hari telah berlalu dan akhirnya aku mengenal Pertamina lewat pengisian bahan bakar minyak untuk motor ayahku.
TRIBUN-TIMUR.COM - Ini adalah artikel nominasi lomba penulisan yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero) MOR VII Sulawesi kerjasama dengan Tribun Timur.
Penulis: Muhammad Kadafi R
Aku ingin bercerita sejak awal mulai tidak kenal dengan produk Pertamina. Pada saat itu umurku masih usia anak-anak, mungkin sekitar 8 tahun. Pagi hari ibuku ingin membuat sarapan. Namun di sela-sela ibuku memasak, tabung gas yang di gunakan habis. Akhirnya ibuku menyuruh untuk mengganti tabung gas tersebut di toko yang tidak jauh dari rumah. Pada saat itu tabung yang aku bawa bersama adikku adalah tabung LPG 12 Kg berwarna biru. Membawanya menggunakan kereta tabung dalam keadaan kosong rasanya lumayan ringan. Tetapi ketika kembali ke rumah dalam keadaan berisi ternyata berat juga membawanya. Aku harus butuh dorongan bantuan dari adik untuk sampai ke rumah.
Aku tidak tahu, saat itu tabung gas yang digunakan ibuku adalah hasil dari jeri paya Pertamina untuk mendistribusikan LPG ke daerah Polewali Mandar daerah tempatku lahir. Yang aku tahu ketika tabung gas isinya sudah habis hanya di tukar di toko dekat rumah. Seketika toko di dekat rumah mengalami kekosongan pasokan gas LPG. Aku sempatkan bertanya kepada pemilik toko. “ Pak tabung gas yang biasa aku tukar asalnya dari mana? Bapak itu hanya menjawab dari Pare-pare nak, sebentar sore saja kamu kembali yah soalnya siang baru tabungnya sampai. Oke Pak”.
Dari percakapan aku dengan bapak pemilik toko tidak pernah di jelaskan kalau di Pare-pare itu ada Perusahaan Pertamina yang kembali mengisi ulang tabung LPG yang isinya sudah habis.
Hari demi hari telah berlalu dan akhirnya aku mengenal Pertamina lewat pengisian bahan bakar minyak untuk motor ayahku. Di siang hari setelah aku di jemput ayah pulang sekolah begitu panasnya terik matahari yang dipancarkan oleh ciptaan Allah ayahku mengajak untuk pergi mengisi bahan bakar di Pertamina. Pada saat itu aku duduk di bagian belakang sambil memeluk ayahku dengan erat.
Pada saat itu pertamina di kota Polewali Mandar hanya ada 2 yaitu yang di daearah Sarampu dan dekat kantor DPRD. Pertamina tertua adalah yang berada di Sarampu sedangkan yang baru ada di Dekat Kantor DPRD. Ayahku memilih untuk mengisi bahan bakar di Sarampu dengan alasan mesin pertamina yang digunakan sudah tua dengan pemikiran liternya lebih banyak di bandingkan pertamina baru yang biasa memainkan literannya.
Sempat aku bertanya “Ayah kenapa bisa di tau kalau pertamina itu memainkan literannya. Ayahku hanya menjawab sudah banyak bukti supir pete-pete dan panjual bensin eceran yang biasa membeli di pertamina baru liternnya kurang. Kemarin tengga beli dengan menggunakan jerengan bekas Oli 10 L hanya terisi 9 L. Yah itu artinya 10:1. Liat saja pertamina yang tua yang akan kita datangi pasti antri karena orang suka dengan kejujuran.”
Sesampainya di SPBU aku membaca papan yang berwarna Merah dengan tulisan berwarna Putih dan di atasnya ada logo dan tulisan Pertamina. Kira-kira ukuran papannya lebar 2 meter dengan tinggi mungkin sekitar 7 meteran. Itu hanya perkiraanku saja karena hanya melihat menggunkan dua mata dan tidak menggunakan alat ukur. Kata yang sempat aku ucapkan “Oh. Ini mi pak yang di bilang Pertamina yang selalu kita tempati isi bensin. Iya nak”.
Pada saat itu produk yang ada di SPBU hanya ada 2 macam yaitu Solar dan Premium. Perlu aku selipkan cerita bahwa ternyata masyarakat di kampung aku tidak terlalu tahu nama preminum melainkan hanya bensin dan solar. Giliran antrian ayahku pun tiba aku hanya melihat karyawan bertanya “isi berapa pak? 15 ribu jawab ayahku.” Lalu kemudian memencet tombol angka 2 dan nol 4 kali lalu Rp. Kemudian menarik alat yang tersambung dengan selang yang hamper mirip dengan tembak tapi tuas yang di tarik harus menggunakan 4 jari sedangkan tembak hanya 1 jari. Setalah pengisian kami langsung kembali ke rumah.
Akupun menginak usia 10 tahun dan duduk di kelas 5 sekolah dasar. Pada saat itu aku sangat ingin mengendarai motor. Karena hampir setiap pagi aku hanya mengelap dan memanaskannya sebelum pergi ke sekolah. Ayahku pun merespon dengan baik keinginanku. Pada hari minggu setelah sholat subuh ayahku mengajak keluar rumah untuk belajar mengendarai motor. Setelah 3 minggu aku lalui ayahku meloloskan untuk mengendari motor dengan sendiri.
Tibalah saatnya setiap ayahku sudah mau kehabisan bahan bakar aku di suruh untuk mengisinya di Pertamina. “kata ayahku nak pergi ki dulu isikan bensin motor. Aku pun menjawab oke ayah yang di pertamina di Sarampu kan? Iyah nak kalau di atas habis baru turun ke bawa yang dekat DPRD. Sip deh”
Setalah aku menginjak usia 13 tahun aku di ajak sama kakakku berlibur di kota Makassar dengan menggunakan motor. Hampir semua Pertamina yang aku lewati dari Polewali – Makassar semua hanya menjual premium dan solar. Tapi setibanya di makassar aku melihat hal yang aneh di Pertamina ternyata ada bahan bakar baru namanya Pertamax awalnya aku menolak untuk mencobanya soalnya harganya mahal di bandingkan premium tapi kakaku tetap memaksa.
Setalah di isi ternyata efeknya jauh lebih irit dan suara motor jauh lebih baik apalagi kecepatannya. Yah tidak menyesal mengisi dengan pertamax. Setalah beberapa hari kami kembali ke kampung halaman dari Makassar menggunakan Pertamax nanti di perbatasan Pare-pare – Pinrang baru di isi lagi. Tapi akungnya pada saat itu tidak ada pertamax lagi. Dari hasil uji coba ini perjalanan aku ke Makassar hampir 4 kali singgah di Pertamina. Sedangkan kembali dari Makassar ke kampung hanya 2 kali.
Sekarang aku kuliah Di STIE AMKOP MAKASSAR produk Bahan Bakar Minyak pertamina Khususnya bensin sisa 1 yang belum aku coba yaitu Pertamax Turbo. Ini karena masih kurang yang menjualnya.
Dari Pengalaman aku di atas ternyata masih bingung Tentang Pertamina dan SPBU. Aku lebih banyak mengucapkan Pertamina karena itulah yang tertanam di fikiranku. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pertamina-tangki_20171216_172638.jpg)