Energi Kita Energi Pertamina
Gas LPG Langka , Rakyat Miskin Menganga
Naiknya harga gas elpiji 3 kg yang drastis tentu sangat meresahkan bagi masyarakat menengah ke bawah,
TRIBUN-TIMUR.COM - Ini adalah artikel nominasi lomba penulisan yang diselenggarakan PT Pertamina (Persero) MOR VII Sulawesi kerjasama dengan Tribun Timur.
Penulis: Fitri Khaerunnisa
Saya Fitri Khaerunnisa, mahasiswa jurusan Akuntansi di Politeknik Negeri Ujung Pandang. Pertama-tama saya ingin mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Pertamina yang ke-60, semoga tetap menjadi yang nomor satu. Kriteria yang saya pilih untuk Karya Tulis ini adalah kriteria 1 yaitu “Menulis pengalaman pribadi atau orang orang di sekitar anda dalam memanfaatkan energi produk yang di produksi dan disalurkan Pertamina untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun bagi masyarakat di sekitar anda.”
Seperti yang kita ketahui bersama, beberapa bulan terakhir ini gas elpiji 3 kg menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan karena kelangkaannya. Warung-warung yang biasanya menyediakan puluhan tabung gas elpiji 3 kg, kini hanya bisa dihitung dengan jari persediaannya bahkan beberapa tidak memiliki stok persediaan sama sekali. Ternyata hal ini terjadi setelah Kementerian ESDM menggelar rapat dengan para agen serta Dinas Perdagangan Sulawesi Selatan beberapa waktu lalu. Rapat tersebut digelar untuk membahas mengenai Pengendalian pemakaian gas elpiji 3 kg yang dikarenakan APBN untuk subsidi gas elpiji 3 kg menurun tajam.
Banyak masyarakat yang tidak tahu mengenai hal ini, beberapa beranggapan bahwa kelangkaan gas elpiji 3 kg ini terjadi karena kelakuan agen-agen yang tidak bertanggung jawab yang tanpa memikirkan dampak yang akan terjadi dengan mudahnya menimbun tabung-tabung gas elpiji 3 kg yang sudah didistribusikan oleh pertamina, yang kemudian agen-agen tersebut menaikkan harga dengan sangat drastis. Dari harga normalnya Rp. 15.500,00 setelah peristiwa ini terjadi harga gas elpiji 3 kg menjadi Rp.25.000,00 bahkan mencapai harga Rp.30.000,00 per tabung gas. Bahkan tak sedikit pihak yang malah menyalahkan Pertamina. Padahal Pertamina pun tak mengurangi stok tabung gas elpiji 3 kg di Sulawesi Selatan.
Sebenarnya tak ada yang bisa disalahkan dalam peristiwa ini. Masyarakat pun mau tidak mau akan tetap membeli gas berapa pun harganya, karena tak dapat dipungkiri bahwa gas sudah seperti bahan pokok bagi orang-orang dalam menyambung hidup khususnya gas elpiji 3 kg yang harganya dapat dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.
Naiknya harga gas elpiji 3 kg yang drastis tentu sangat meresahkan bagi masyarakat menengah ke bawah, tak terkecuali para pedagang kaki lima yang menjual makanan dengan menggunakan gas elpiji 3 kg yang biasa mereka bawa saat mereka berjualan. Keresahan ini sangat dirasakan mengingat bahwa mereka pun juga tidak bisa menaikkan harga makanan yang mereka jual secara signifikan. Sebab, mereka tidak menaikkan harga dagangannya saja terkadang setiap hari tidak selalu habis terjual, bahkan tak jarang mereka mengalami kerugian, apalagi jika mereka menaikkan harga dagangannya, bukan tak mungkin mereka akan mengalami kerugian besar dan akhirnya memutuskan untuk berhenti berjualan beberapa saat sampai harga gas elpiji 3 kg kembali normal. Lalu sumber penghidupan mereka dari mana kalau bukan dari berjualan?
Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan, gas elpiji 3 kg sudah seperti nyawa bagi mereka, dengan adanya peristiwa ini keadaan mereka akan semakin tercekik dan tidak tau harus melakukan apa dalam keadaan yang menyesakkan tersebut.Ditambah dengan kebutuhan keluarganya yang terus bertambah, entah itu biaya hidup sehari-hari, biaya sekolah anaknya dan biaya-biaya lain pada umumnya.
Adanya gas elpiji 3 kg ini sebenarnya sasarannya hanya kepada masyarakat kurang mampu, yang memang pantas diberikan subsidi. Namun beredar berita bahwa alasan APBN subsidi gas elpiji 3 kg menurun tajam salah satunya sebabkan oleh subsidi salah sasaran. Maksudnya yaitu, gas elpiji 3 kg yang seharusnya hanya dipakai oleh masyarakat menengah ke bawah, tetapi malah dipakai oleh masyarakat kalangan menengah ke atas, bahkan ada yang memakainya untuk usaha besar seperti restoran-restoran dan laundry yang sebenarnya tidak pantas menggunakan subsidi dalam usahanya. Hal-hal seperti ini lah yang sebenarnya harus ditindak tegas oleh pemerintah. Rakyat-rakyat nakal yang menyalahgunakan kebijakan pemerintah yang membuat masyarakat kurang mampu menjadi kehilangan haknya.
Namun jangan khawatir, karena beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) telah menyediakan berbagai macam tabung gas seperti tabung gas 75 kg dan Bright Gas 5,5 kg yang cocok digunakan oleh masyarakat kalangan menengah ke atas atau yang memiliki usaha yang terbilang besar, serta tersedia juga tabung gas elpiji 3 kg yang cocok digunakan oleh masyarkat menengah ke bawah. Dan tak perlu takut soal harga, karena SPBU-SPBU yang menyediakan tabung gas tersebut menjual dengan harga normal, salah satunya yaitu SPBU di Jl. Hertasning Baru seperti foto yang saya ambil sendiri kemarin siang. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pertamina-tangki_20171216_172638.jpg)