Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Gapperindo Sebut Ada Mafia Pupuk di Sulsel hingga Tak Sampai ke Petani

"Hampir seluruh kabupaten/kota mencari pupuk. Yang paling parah itu di Soppeng, Luwu Utara, dan Luwu Timur," katanya

Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Anita Kusuma Wardana
Direktur Utama Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat hadir dalam Koordinasi Persiapan Musim Tanam PT Pupuk Indonesia, di Grand Clarion Makassar, Jumat (24/11). Pupuk Indonesia terus memonitor ketersediaan stok pada gudang distributor untuk mencegah terjadinya kekurangan pupuk subsidi dalam menghadapi musim tanam. tribun timur/muhammad abdiwan 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-Pupuk Indonesia terus meningkatkan kualitas sistem monitoring stok agar lebih memudahkan dalam mengetahui ketersediaan stok pupuk di seluruh daerah di tanah air.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero), Aas Asikin Idat menuturkan, per 17 November, Pupuk Indonesia telah menyalurkan urea bersubsidi sejumlah 264.601 ton dari alokasi 2017 sebesar 298.684 ton.

"Komposisinya NPK 109.372 ton, SP-36 sebesar 42.762 ton, ZA sebesar 56.055 ton, dan Organik sebesar 10.109 ton," katanya di sela jumpa pers terkait koordinasi menghadapi musim tanam di Grand Clarion Hotel Jl AP Pettarani Makassar, Jumat (24/11/2017) 

Untuk memperlancar pendistribusian, Pupuk Indonesia khususnya di Sulsel, saat ini diperkuat 63 distributor dan 1.557 pengecer, 8 gudang lini II, dan 42 Gudang Lini III.

"Apakah di Sulsel terjadi kelangkaan pupuk? Saya kira tidak. Stok kita bisa bertahan hingga 3-4 minggu ke depan," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (Gapperindo) Wilayah Sulsel, A Sulaiman HA Loeloe tidak sependapat dengan hal tersebut. Menuturnya, Pupuk di Sulsel masih sangat kurang.

"Hampir seluruh kabupaten/kota mencari pupuk. Yang paling parah itu di Soppeng, Luwu Utara, dan Luwu Timur," katanya saat dihubungi Jumat (24/11/2017).

Menuruynya, bicara masalah pupuk di Sulsel. Tidak pernah cukup. Ada bocoran kemana-mana.

"Tiap musim tanam, pupuk kita cari kesana kemari tetapi tidak tersedia. Mau beli pupuk non subsidi saja susah apalagi yang subsidi," katanya.

Program pemerintah 1 juta pupuk sangat bagus. Namun hingga saat ini belum terasa. Terlalu panjang rantai distribusi jadi salah satu pwnyebabnya.

"Ada mafia pupuk. Apa yang sampai ke petani terbilang minim. Panjangnya mata rantai distribusi salah satu penyebabnya. Kita harap ini diperpendek, kalah bisa dari produsen langsung ke kelompok tani," ujarnya.

"Kata pemerintah selalu aman, namun kita lihat kondisi lapangan tidak demikian,"tambahnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved