Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Jadi Pembicara di Seminar Kopel, Begini Penilaian Cicu Soal Kinerja SYL-Agus

Andi Rachmatika Dewi atau biasa disapa Cicu menjadi pembicara untuk presentasi hasil studi pencapaian visi misi Gubernur Sulsel

Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Anita Kusuma Wardana
FAHRIZAL SYAM
Komite Pengawas Legislatif (Kopel) Indonesia menyelenggarakan seminar dan lokakarya dalam rangka membangun jejaring masyarakat sipil anti korupsi, di Hotel Grand Clarion Makassar, Kamis (2/11/2017). 

Laporan Wartawan Tribun, Timur, Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Komite Pengawas Legislatif (Kopel) Indonesia menyelenggarakan seminar dan lokakarya dalam rangka membangun jejaring masyarakat sipil anti korupsi, di Hotel Grand Clarion Makassar, Kamis (2/11/2017).

Seminar dan lokakarya ini menghadirkan jaringan-jaringan anti korupsi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Indonesia Corruption Watch (ICW), dan USAID-MESP.

Hadir juga sebagai pembicara Wakil Wali Kota Makassar Syamzu Rizal, Wakil Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi, Akademisi Prof Marwan Mas, dan lain-lain.

Andi Rachmatika Dewi atau biasa disapa Cicu menjadi pembicara untuk presentasi hasil studi pencapaian visi misi Gubernur Sulsel jelang setahun masa akhir jabatan.

Ia memiliki beberapa catatan terkait pencapaian visi misi di akbir periode SYL-Agus.

"Bagaimana Sulsel di akhir jabatan Gubernur dan Wakil Gubermur, yang menjadi catatan saya, terkait angka kemiskinan yang saya lihat perlu kita apresiasi sedikit. Jika dibandingkan dengan provinsi lain di tahun 2017 ini, memang Sulsel mengalami angka kemiskinan yang lumayan menurun," kata Cicu.

"Itu terlihat dari sumbangsih misalnya dari Kabupaten Sidrap yang mengalami penurunan kemiskinan, saya pikir ini menjadi acuan Pemprov untuk mendorong kabupaten lainnya agar angka kemiskinan bisa semakin di tekan dan menyediakan beberapa opsi terkait lapangan kerja," kata dia.

Ia juga mendorong pemerintah bagaimana membuat program yang tepat untuk masyarakat di kabupaten kota masing-masing di Sulsel.

"Kalau kita lihat contoh di Sidrap, pemerintahnya konsen bagaimana menurunkan angka kemiskinan dengan mendata setiap masyarakat di sana apa yang menjadi kebutuhan, sehingga angka kemiskinan setiap tahun bisa ditekan," kata dia.

"Kedua terkait program angka pendidikan perguruan tinggi. Kita perlu apresiasi Pemprov dengan program beasiawanya sudah memberi kontribusi yang cukup tinggi," ujarnya.

Menurutnya, penerima SPP gratis mulai 2015 sebanyak 121 Perguruan Tinggu, 8 negeri dan sisanya swasta perlu dilanjutkan.

"Rata-raya beasiswa yang diterima kurang lebih Rp1 juta selama 2 semester. Ini luar biasa jika dilihat angkanya. Artinya, ke depan perlu dipikirkan keberlanjutan program ini. Menurut saya ini harus diteruskan karena memberikan hasil yang positif dan efek luar biasa bagi penerimanya," ucapnya.

Selain itu, lanjut Cicu, angka pertumbuhan ekonomi dimana Kota Makassar menjadi salah satu penopang Sulsel. Oleh karena itu perlu dipikirkan, bagaiman Pemprov memberi stimulan kepada kabupatem kota lain agar mereka meningkatkan sumber daya yang mereka punya di daerah masimg-masing.

"Namun pertumbuhan ekonomi khususnya di Makassar yang tinggi juga diikuti gini ratio yang tinggi. Jangan sampai pertumbuhan ekonomi ini hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja, tidak secara menyeluruh," pungkasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved