Keluarga Korban Pembunuhan Pelajar di Gowa Lempari Pelaku Saat Disidang

Hanya karena masalah sapi, seorang pelajar pesantren di Kecamatan Manuju, RE (18) tega menghabisi teman sekolahnya RI (17).

WA ODE NURMIN
Terdakwa utama RE (baju putih) saat memberikan keterangan terhadap terdakwa lainnya MK (meja tergugat) di Pengadilan Negeri Sungguminasa. 

Laporan Wartawan Tribun Timur Wa Ode Nurmin

TRIBUN-TIMUR.COM,SUNGGUMINASA- Hanya karena masalah sapi, seorang pelajar pesantren di Kecamatan Manuju, RE (18) tega menghabisi teman sekolahnya RI (17).

Parahnya, persoalan sapi itu rupanya bermula antara orangtua korban dan terdakwa yang berujung pada kenekatan RE menikam korban dengan ditemani temannya MK (18) di belakang sekolah di Desa Tanakaraeng, Kecamatan Manuju pada Selasa 16 Mei lalu.

Hal ini terungkap dalam persidangan di Pengadilan Negeri Sungguminasa, Jl. Usman Salengke, Gowa, Kamis (5/10/2017).

Terdakwa yang dihadirkan sebagai saksi atas terdakwa lainnya MK (18) menceritakan jika dirinya tega menghabisi nyawa korban dengan cara menikam karena marah dikatai 'rammasa" yang artinya kotor oleh korban pada Selasa 16 Mei lalu.

"Waktu saya liat dia kencing di pohon jati belakang sekolah, saya langsung datangi dan pukul kepalanya. Tapi dia tendang ka sampai jatuh sambil dia bilangi ka dan mama ku "rammasa". Jadi saya suruh MK yang lagi kencing juga pegang RI. Baru saya ambil badik ku di bawah pohon dan tikam kepalanya," katanya di hadapan majelis hakim, jaksa, dan keluarga korban yang menghadiri sidang.

Badik tersebut rupanya dibawa dari rumah oleh terdakwa ke sekolah dan menyimpannya di bawah pohon jati belakang sekolah.

Badik itu dia beli di pasar dua hari sebelum membunuh korban.

Penjelasan terdakwa jika dia membeli badik karena takut kepada orangtua korban yang sebelumnya datang temui orangtuanya.

"Dia datang minta uang sapi karena sapinya dia jual sama bapak ku. Baru na ancam ka dan kata-katai mama ku. Itu kejadiannya Sabtu (13 Mei) malam. Jadi besoknya saya pergi beli badik," ujarnya.

Usai menikam, MK yang awalnya memegang korban lalu kabur sementara RE kembali menghujamkan badiknya ke arah muka korban hingga empat kali sampai jatuh. Dan dua kali tikaman di perut tapi tidak tertusuk.

Dia lalu meninggalkan tubuh korban dan lari bersama MK ke rumah tantenya di Sapaya Bungaya. Disana dia menceritakan jika habis menikam oranh dan meminta orangtuanya agar dia diantar menyerahkan diri ke polisi.

Persidangan itu sempat diwarnai kericuhan saat keluarga korban melempari sendal kepada terdakwa MK usai sidang. Namun diredam oleh aparat Polres Gowa dan Polsek Somba Opu yang berjaga.(*)

Penulis: Waode Nurmin
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved