September 2017, Sulsel Alami Deflasi
Berdasarkan data BPS, pada September 2017 ini Sulsel memgalami deflasi sebesar 0,07 persen dengan Infeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 129,98.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur, Fahrizal Syam
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan merilis perkembangan Indeks Harga Konsumen/Inflasi Sulsel September 2017, di Kantor BPS Sulsel, Senin (2/10/2017).
Berdasarkan data BPS, pada September 2017 ini Sulsel memgalami deflasi sebesar 0,07 persen dengan Infeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 129,98.
Kepala BPS Sulsel Nursam Salam mengatakan, deflasi di Sulsel pada September 2017 disebabkan oleh turunnya harga pada dua kelompok pengeluaran yang ditunjukkan oleh turunnya indeks harga pada kelompok bahan makanan dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan.
"Kelompok bahan makanan turun sebesar -1,39 persen, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan -0,04 persen, meskipun lima kelompok lainnya inflasi," kata Nursam.
Kelompok yang mengalami inflasi, yaitu makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,08 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,17 persen.
Kelompok sandang sebesar 0,63, kelompkm kesehatan sebesar 0,48 persen, dan kelompom pendidikan, rekreasi, dan olahaga 2,64 persen.
Nursam melanjutkam, dari lima kota IHK di Sulsel, satu kota tercatat inflasi sementara empat lainnya mengalami deflasi.
"Inflasi terjadi di Parepare 0,10 persen dengan IHK 136,39. Deflasi tertinggi di Watampone -0,14 persen dengan IHK 126,73 dan deflasi terendah di Palopo -0,04 persen dengan IHK 127,48," jelasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/bps-sulsel_20171002_153916.jpg)