Seniman Makassar Gagas Sekolah Akting
Sebab banyak aktor/aktris yang saat ini terjebak pada kebutaan dan eksistensi menilai dirinya sebagai profesional padahal hanya sekali tampil dan berp
Penulis: Alfian | Editor: Ardy Muchlis
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-- Sinerji Teater Makassar boleh dibilang sukses menggelar pertunjukan Drama Montserrat yang berlangsung di Gedung Kesenian Societet De Harmonie, Jl Ahmad Yani Makassar, Minggu (27/8) lalu. Dari pertunjukan yang berlangsung selama tiga hari itu, para pihak yang terlibat maupun Seniman Makassar bersepakat untuk menindaklanjuti.
Tindak lanjut yang dimaksud yang kembali menghidupkan Seni Teater di Makassar dengan membentuk Acting Cours atau Sekolah/Kursus peran.
"Momen ini harus dimanfaatkan, usai Monserrat kita lihat bahwa saat ini betapa tidak pentingnya Theater sehingga perlu ada keberanian dari produser Monserrat bersama yang lainnya mengambil alih tugas Pemerintah dan membentuk kembali Acting Course," ucap salah satu seniman senior Makassar, Fahmi Syarif.
Hal itu ia sampaikan saat berlangsung diskusi Pasca pementasan di Kantor Tribun Timur Jl Cendrawasi, Minggu (24/9), yang turut dihadiri pula oleh tim produksi karya Emmanuel Robles itu.
Fahmi cukup beralasan dengan hal tersebut, sebab menurutnya saat ini dunia peran perlu mendapatkan kembali sentuhan terbaiknya.
"Sebab banyak aktor/aktris yang saat ini terjebak pada kebutaan dan eksistensi menilai dirinya sebagai profesional padahal hanya sekali tampil dan berperan misalnya dalam film," ungkapnya.
Tawaran itupun disambut baik oleh tim produksi Monserrat. Sutradara Monserrat, Yhudistira Suhatanya, mengatakan bahwa dari hasil diskusi itu memang mengarah pada output yang lebih jelas kedepannya.
Sehingga pada kesempatan itupun disepakati tim untuk membentuk dan mempersiapkan Acting Course yang dimaksud. Terdapat lima orang yang disepakati sebagai tim utama dalam persiapan tersebut.
Yakni Produser Monserrat Soepropto, Yhudistira Suhatanya selaku sutrada. Serta Asmin Amin, dan Agung Iskandar sebagai pemeran. Dan juga mengikutsertakan Fahmi Syarif selaku senior seniman Makassar.
"Untuk teknisnya nanti akan kita bicarakan terutama terkait dengan kurikulum. Namun saya rasa ini akan berjalan dengan baik dan menjadi awal kebangkitan teman-teman nantinya," papar Yhudistira.
Selain membahas banyak hal terkait rencana kedepannya, diskusi atau pertemuan yang berlangsung hampir tiga jam itu juga mengevaluasi hasil dari pementasan Monserrat.
Seperti yang diketahui drama yang menceritakan tentang Revolusi Venezuela itu untuk kedua kalinya dipentaskan di Makassar.
Pementasan pertama kalinya berlangsung pada tahun 1979. Saat itu Fahmi Syarif juga ikut terlibat sebagai aktor.
Di luar dari bahasan terkait Monserrat, pada kesempatan itu juga para seniman yang hadir sekitar belasan orang itu juga membahas strategi promosi dan pengenalan Kesenian melalui media sosial.
Diskusi ini juga dihadiri oleh Wakil Pemimpin Redaksi Tribun Timur, Thamzil Thahir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/makassar_20170924_234913.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/makassar_20170924_234944.jpg)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/makassar_20170924_234657.jpg)