Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Wisata Sulsel

Akaddo Bulo, Pesta Makan Lammang Warga Tamanyelleng, Sudah Ada Sejak Raja Gowa ke-9

Akaddo bulo merupakan beras ketan dicampur santan dimasak didalam bambu muda dan dipanggang diatas bara api

Tayang:
Penulis: Waode Nurmin | Editor: Suryana Anas
TRIBUN TIMUR/WAODE NURMIN
Desa Tamanyelleng, Kecamatan Barombong, Gowa punya tradisi usai panen masyarakat setempat. Atammu Taung Akaddo Bulo atau yang artinya bertemu kembali di hari jadi dengan perayaan pesta makan kaddo bulo atau lammang, mulai dilaksanakan di masa Raja Gowa ke 9 Imatenre Daeng Manguntungi KaraengTumapa'risi Kallongna. 

Laporan Wartawan Tribun Timur Wa Ode Nurmin

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA- Desa Tamanyelleng, Kecamatan Barombong, Gowa punya tradisi usai panen masyarakat setempat.

Atammu Taung Akaddo Bulo atau yang artinya bertemu kembali di hari jadi dengan perayaan pesta makan kaddo bulo atau lammang, mulai dilaksanakan di masa Raja Gowa ke 9 Imatenre Daeng Manguntungi KaraengTumapa'risi Kallongna.

Desa Tamanyelleng, Kecamatan Barombong, Gowa punya tradisi usai panen masyarakat setempat.

Atammu Taung Akaddo Bulo atau yang artinya bertemu kembali di hari jadi dengan perayaan pesta makan kaddo bulo atau lammang, mulai dilaksanakan di masa Raja Gowa ke 9 Imatenre Daeng Manguntungi KaraengTumapa'risi Kallongna.
Desa Tamanyelleng, Kecamatan Barombong, Gowa punya tradisi usai panen masyarakat setempat. Atammu Taung Akaddo Bulo atau yang artinya bertemu kembali di hari jadi dengan perayaan pesta makan kaddo bulo atau lammang, mulai dilaksanakan di masa Raja Gowa ke 9 Imatenre Daeng Manguntungi KaraengTumapa'risi Kallongna. (TRIBUN TIMUR/WAODE NURMIN)

Kepala Desa Tamanyelleng, Muhammad Yusram dalam sambutannya di acara Atammu Taung Akkado Bulo, Jumat (25/8/2017), dimulai pada awal tahun 1489-1524.

"Saat itu Raja Gowa ke 9 mendatangkan 10 ribu pekerja untuk membangun benteng Somba Opu. Dan Sombaya meminta masyarakat sekitar untuk membuatkan makanan bagi pekerja," katanya dihadapan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan yang hadir.

Sejarah

Akhirnya kala itu masyarakat menyediakan makanan seperti Kaddobulo, burasa, lappa-lappa dan Kaddo Ma'singkulu serta sambala kaluku dan tumpi-tumpi sebagai lauknya.

Hal itu dilakukan secara bergantian antara kampung satu dan kampung lainnya secara terus menerus hingga pembangunan benteng selesai.

Pada saat masa Raja Gowa ke 10 Imanriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung membangun Benteng Pa'nakukkang, masyarakat juga melakukan hal yang sama hingga benteng selesai dikerjakan.

Ketika Raja Gowa ke 10 turun tahta, posisi Raja digantikan adiknya Itaji Barani Daeng Marompa Karaeng Data' menjadi Raja Gowa ke 11.

Di masanya Itaji Barani juga membangun Benteng Ana' Gowa dan setelah rampung maka hamparan persawahan di Ta'malallang dijadikan lokasi pelatihan para tubarania Kerajaan Gowa.

Tradisi Akaddo Bulo mulai dikenal setelah Indonesia merdeka, Sombaya Raja Gowa ke 36 Andi Idjo Daeng Mattawang, Karaeng Lalolang meminta Anrong Guru Tama'la'lang agar kegiatan Akaddo Bulo diselenggarakan setelah 17 Agustus Hari Ulang Tahun kemerdekaan RI (pesta rakyat).

Yusram pun menjelaskan jika tahun ini desanya mampu membuat Kaddobulo sebanyak 30 liter, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 20 liter saja.

Akaddo bulo merupakan beras ketan dicampur santan dimasak didalam bambu muda dan dipanggang diatas bara api

Diakhir sambutannya Yusram sedikit terharu mengucapkan terima kasih atas kehadiran Bupati Gowa yang sudah empat kali berkunjung ke acara tersebut.

Bahkan sebelum dirinya menjadi bupati, Adnan selalu menghadiri acara itu.

Sementara itu Adnan Purichta Ichsan ketika memberikan sambutan mengaku akan membuat cara Attammu Taung Kaddobulo ini dijadikan kalender wisata setiap tahun. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved