Komisi B DPRD Minta Polair dan Pelindo Bongkar Rumah Liar Area Pemecah Ombak Gusung

Area itu termasuk kawasan rawan, kalau ada warga nelayan yang tinggal dan menetap di sana, ini membahayakan

Komisi B DPRD Minta Polair dan Pelindo Bongkar Rumah Liar Area Pemecah Ombak Gusung
Handover
Bangunan dan rumah liar di area tanggul pemecah ombak di Gusung, Ujung Tanah, utara Kota Makassar. Komisi B DPRD Provinsi minta pemerintah provinsi dan pihak terkai untuk membongkar bangunan tersebut karena akan membahayakan 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR-- Sekretaris Komisi B DPRD Sulawesi Selatan Selle KoaSse Dalle (45 tahun) meminta jajaran Polisi Perairan (Polair) Polda Sulsel dan manajemen PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) IV Makassar, segera membongkar bangunan dan rumah liar di area tanggul pemecah ombak di Gusung, Ujung Tanah, utara Kota Makassar.

"Area itu termasuk kawasan rawan, kalau ada warga nelayan yang tinggal dan menetap di sana, ini membahayakan," kata anggota Fraksi Partai Demokrat Sulsel ini, usai melintas di kawasan itu, Minggu (9/7/2017) sore.

Pimpinan Komisi yang membidangi pembangunan, infrastruktur, perikanan dan kelautan DPRD provinsi ini, juga akan meminta pemerintah provinsi memberi perhatian khusus ke area bantaran tanggul berkonstruksi beton itu

"Kami juga akan minta Dinas Perikanan dan Kelautan berkoordinasi dengan Pelindo dan Polair," ujarnya politisi kelahiran Takalalla, Soppeng ini.

Alumnus Fakultas Teknik UMI ini menegaskan, provinsi memiliki kewenangan untuk mengamankan kawasan pesisir dan laut pasca pengalihan kewenangan pengelolaan dan pengawasan kawasan perairan laut dari pemerintah kabupaten ke provinsi, tahun 2016 lalu.

Dari pantauan Selle, dia mencatat setidaknya ada enam bangunan semi permanen bekonstruksi kayu di kawasan yang berjarak 2 mil laut dari pelabuhan Makassar dan Pelabuhan Rakyat Paotere ini.

Selle menggambarkan ada antena TV, dan beberapa perahu yang ditambatkan di sisi selatan dan timur tanggul wave breaker setinggi 4 hingga 5 meter itu.

Area itu bukan peruntukannya sebagai permukiman dan sewaktu-waktu sangat membahayakan jiwa dan kesehatan warga yang bermukim dan membangun rumah tinggak di tempat itu.

" Kalau dibiarkan warga membangun secara liar, tak menutup kemungkinan besok-besok akan memunculkan masalah sosial baru. Tanah tuh berpasir itu memang cukup untuk membangun rumah permanen," kata Selle.

Penulis: Thamzil Thahir
Editor: Ardy Muchlis
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved