KOLOM ANDI SURUJI
Membaca Survei Awal Balon Gubernur
Mencermati survei itu setidaknya ada dua poin penting yang harus dicermati tim Bro Rivai maupun Andi Burhanuddin.
TRIBUN-TIMUR.COM - Tak ayal lagi, nama-nama yang mencuat sebagai bakal kandidat gubernur Sulawesi Selatan sudah mencatat popularitas tinggi. Tetapi ada sosok yang banyak melakukan sosialisasi namun seolah tak terekam radar survei.
Setidaknya begitulah kesan saya membaca headline Tribun Timur edisi Jumat lalu sembari menyeruput kopi pagi. Pemaparan dituangkan Tribun berdasarkan survei Populi Center.
Nama figur yang terekam itu memang selama ini telah menjadi bagian dan darah daging perpolitikan Sulawesi Selatan. Ada Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng di posisi teratas. Ikhsan Yasin Limpo, mantan Bupati Gowa dua periode, yang juga adik Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Agus Arifin Nu'mang Wakil Gubernur Sulsel.
Nurdin Halid mungkin fenomenal. Baru belakangan mencuat setelah kisruh panjang Partai Golkar Sulsel, tetapi juga orang pertama yang fixed diusung partainya. Bakal calon yang pertama deklarasi dan dideklarasikan.
Agak mengherankan, Bro Rivai dan Andi Burhanuddin, yang sudah dua tahun bersosialisasi lewat media, maupun aktivitas langsung ke masyarakat, seolah tak terekam survei Populi Center. Mungkin kebetulan belaka, keduanya bisa dibilang representasi polisi dan tentara.
Tidak perlu kecewa, kecil hati, apalagi mundur dari medan pertempuran. Perang sesungguhnya belum dimulai. Justru survei itu harus menjadi bahan bakar dan pelumas untuk menggerakkan mesin dan roda Tim Bro Rivai dan Andi Burhanuddin lebih akseleratif lagi.
Dua Poin
Mencermati survei itu setidaknya ada dua poin penting yang harus dicermati tim Bro Rivai maupun Andi Burhanuddin. Pertama, latar belakang calon (lama atau baru) yang diinginkan responden. Kedua, profesi calon.
Ternyata responden survei paling banyak menginginkan calon baru, yakni 37,6 persen. Boleh jadi yang lama dan terdeteksi survei itu dinilai masyarakat sebagai 4L (lu lagi lu lagi). Bahkan sudah 6L (lagi-lagi lu, lagi-lagi lu). Mereka menginginkan wajah atau sosok baru, istilah Bugis iyya amma na makanja (semoga dialah yang lebih baik).
Tengok pula populasi responden yang belum tau, tidak tahu, dan tidak menjawab yang juga cukup signifikan jumlahnya yakni 34,3 persen. Jika keduanya dijumlahkan, maka populasinya luar biasa, mencapai 71,9 persen. Bukan angka kecil, tetapi potensi besar yang harus menjadi pusat perhatian para tim pemenangan bakal calon.
Lihat pula latar belakang profesi yang diinginkan. Ternyata, birokrat hanya diinginkan oleh 19,6 persen. Jumlah itu hampir sama (19,3 persen) yang tidak mempertimbangkan latar belakang apa pun. Apalagi jika ditambahkan populasi mereka yang tidak tahu atau tidak menjawab yang mencapai 29,9 persen. Populasinya hampir 40 persen. Tentu ini ladang penambangan suara yang atraktif dan menantang.
Dari kedua poin hasil survei itu, bersiaplah kerja keras. Boleh jadi responden kini mengidap sindrom (aih sama ji) terhadap siapa pun yang akan jadi gubernur. Itu sebagai refleksi pada pengalaman mereka dari sejak hiruk-pikuk satu pilkada sampai pada pilkada berikutnya, tanpa perubahan berarti dalam kehidupan dan penghidupan keseharian mereka.
Dalam kondisi demikian maka siapa yang menawarkan hal baru (calon baru, program baru) maka dialah yang berpotensi mendulang suara. Syaratnya, sosialisasi memperkenalkan bakal calon secara luas dan dalam dapat berjalan baik.
Selamat berkompetisi untuk meningkatkan kualitas demokrasi kita yang kata banyak orang in the making process, belum matang.*
Andi Suruji, Pemimpin Umum Tribun Timur
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/andi-suruji_20170209_034224.jpg)