Pilgub DKI Jakarta

Pernah 'Musuhan' Prabowo saat Pilpres, Inilah Sebab Anies Tiba-tiba Dipakai Lawan Ahok dan Menang

Setelah memastikan persetujuan Prabowo, Aksa telepon JK, minta penguatan.

Pernah 'Musuhan' Prabowo saat Pilpres, Inilah Sebab Anies Tiba-tiba Dipakai Lawan Ahok dan Menang
TRIBUNNEWS.COM
Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta terpilih usungan Partai Gerindra, Anies Rasyid Baswedan. 

Romi pun kemudian bertemu dengan Anies.

Selain untuk melepas kangen, mereka membahas soal modal politik Anies untuk bertarung.

"Sebagai kenalan lama, kita kangen-kangenan saja dan tentu bicara modal politik apa yang memberanikan Anies untuk maju di DKI mengingat yang dihadapinya adalah giant, raksasa, mengingat hari-hari itu Ahok elektabilitasnya di survei begitu tinggi," ujar dia.

Pembicaraan kemudian berlanjut ketika Romi dan Aksa membesuk Anies, yang tengah dirawat di Rumah Sakit Mayapada karena menderita demam berdarah.

Hasilnya disepakati, Romi dengan PPP akan memasarkan Anies sebagai bakal calon gubernur.

PPP Romi akan menyodorkan nama Anies ke partai-partai lain untuk diajak berkoalisi.

Ini mengingat kursi PPP di DKI hanya 10.

"Dari sini saya mulai memasarkan Anies," kata Romi.

Peran Erwin

Aksa mengaku mulai “angkat tangan” memaketkan Anies dan Sandi, tapi tiba-tiba suatu hari, sekitar pukul 09.45 WIB, Erwin Aksa, anak sulungnya, menelepon.

“Jam 9.45, Erwin, anak saya, baru ketemu Sandi dan Prabowo. Erwin telepon saya, ‘Bapak dicari Prabowo, Pak. Ini nomor teleponnya, telepon sekarang’. Saya bilang, saya tidak mau lewat telepon, saya mau datangi langsung. Di mana Prabowo saya datangi sekarang. Itulah sampai jam dua subuh,” kata Aksa.

Orang Moderat

JK juga angkat bicara.

JK mengonfirmasi keterlibatannya dalam memenangkan Anies dan Sandi di sela pembukaan Rating Kota Cerdas Indonesia 2017 di Istana Wakil Presiden Jakarta.

"Anies, orang yang sangat moderat didampingi pengusaha, orang punya pengalaman, orang dekat Jokowi sebelumnya karena dia jubirnya selama enam bulan mendampingi tidak ada orang paling dekat dengan Pak Jokowi, selain Anies selama kampanye. Tidak ada orang lain, karena itu orang paling tepat waktu itu agar negeri ini aman, maju, serta tidak ada fitnah, hanya itu," kata JK.

Untuk itulah dirinya kemudian mengusulkan kepada partai politik untuk mengusungnya menjadi kandidat Gubernur DKI Jakarta.

JK mengaku hanya mengusulkan kepada partai politik dan tidak ada intervensi. Keputusan tetap berada di tangan partai-partai politik pengusung.

"Kalau intervensi saya memaksa keputusan, saya tidak, yang mengambil keputusan kan ketua partai, saya hanya berbicara. Apa salah?" ujar JK.

Ia mengaku berbicara dengan Prabowo untuk mengusulkan Anies.

"Saya kan ke luar negeri waktu itu tentu berbicaralah, apa salahnya, kita bicara dengan pimpinan partai agar semuanya hasilnya baik, negara aman, maju, dan damai. Coba sekarang? Damai kan?" kata JK.

 Jubir Wapres: Ini Bukan Soal Menang-Kalah

Terungkapnya peran JK di balik kemenangan Anies dan Sandi disesalkan oleh Peneliti Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsudin Haris.

Menurutnya, dukungan JK kepada Anies sebaiknya tidak dibuka ke publik.

"Dukungan secara personal saya kira boleh saja dilakukan. Hanya saja, jangan dibuka kepada publik dan seolah menjadi pernyataan wapres," ujar Syamsudin.

Secara etika dan komunikasi politik, dia menilai pernyataan dukungan itu tidak baik. Sebab, pernyataan tersebut akan membuat publik bertanya-tanya.

"Jika memang benar ada dukungan, mestinya tidak dilakukan. Posisi beliau sebagai Wapres memiliki sikap politik yang sama dengan Presiden," kata Syamsuddin.

Dikonfirmasi terpisah, Juru Bicara (Jubir) Wakil Presiden RI, Husain Abdullah, mengatakan, ini bukan politik sempit menang-kalah.

“Tapi Pak JK memberi pertimbangan dalam konteks bagaimana menyelamatkan bangsa dari perpecahan atau konflik terbuka. Karena JK sudah mencium aroma gesekan berbau agama dalam kontestasi Pilgub DKI,” kata Uceng, sapaan Husain kepada Tribun. 

Menurut Uceng, JK menyodorkan Anies karena dinilai figur yang paling aman dan jalan tengah untuk menghadapi Ahok.

“Maka pilihannya adalah Anies yang berlatar akademisi moderat nasionalis religius. Selain itu dekat dengan Presiden Jokowi dan pernah jadi jubir, penghuni rumah transisi, menteri, dan sama-sama alumni UGM,” kata Uceng.

“Jadi ini, bukan soal menang kalah. Tapi penyelamatan bangsa dari ancaman konflik terbuka. Bayangkan saja andaikan lawan Ahok bukan Anies,” ujar Uceng menambahkan.(*)

Penulis: AS Kambie
Editor: Edi Sumardi
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved