Bukan Tuntut Harga Turun, Mahasiswa Ini Malah Unjuk Rasa Minta Harga Bawang Dinaikkan

Mereka menuntut pemerintah memperhatikan nasib petani bawang di Bima yang mengalami kesulitan akibat harga bawang terus menurun.

Bukan Tuntut Harga Turun, Mahasiswa Ini Malah Unjuk Rasa Minta Harga Bawang Dinaikkan
TRIBUN TIMUR/ FAHRIZAL SYAM
mahasiswa asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menamakan diri mahasiswa Lambu Makassar, berunjuk rasa di Jl AP Pettarani Makassar, Kamis (27/4/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Timur Fahrizal Syam

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Mahasiswa biasanya turun ke jalan untuk berunjuk rasa menolak kenaikan atau mahalnya harga barang, namun lain halnya yang dilakukan sejumlah mahasiswa di Makassar, mereka justru menuntut harga bawang dinaikkan.

Sekelompok mahasiswa asal Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang menamakan diri mahasiswa Lambu Makassar, berunjuk rasa di Jl AP Pettarani Makassar, Kamis (27/4/2017).

Mereka menuntut pemerintah memperhatikan nasib petani bawang di Bima yang mengalami kesulitan akibat harga bawang terus menurun.

"Menurunnya harga bawang tidak diimbangi dengabahalnya harga bibit, obat-obatan, pupuk, dan lain sebagaianya, hal ini terys terjadi sepanjang tahun hingga mengakibatkan petani merugi, terlebih lagi minimnya pembeli yang akan bertransaksi dengan petani," ujar salah satu orator.

Ia mengatakan, hal tersebut terus terjadi tanpa ada solusi dari Pemerintah Kabupaten Bima, dan tak adanya regulasi atau Lerda tentang proteksi petani dalam menjaga stabilnya harga bawang.

"Kisaran harga bawang yaitu Rp1,5 juta untuk tipe super, dan Rp1,1 - Rp1,2 juta untuk tipe sedang. Jika dikomparasikan dengan harga bibit, maka sangat jauh berbeda, harga bibit kisaran Rp3 juta, dan harga bibit akan terus melambung tinggi seiring meningkatnya permintaan," ujarnya.

"Kemudian meroketnya harga pestisida dan lain sebagainya. Jika dikomparasikan dengan harga bawang di tiap-tiap daerah di luar Kabupaten Bima, sangat jauh berbeda dengan kisaran harga Rp3,5 juta sampai Rp4 juta, hal ini menjadikan petani semakin dilema, pesimis dan merugi," tambahnya.

Demostran menyebut, kuaiitas bawang merah dari Kabupaten Bima mengungguli kualitas bawang dari daerah lainnya, dan produksinya menempati posisi kedua zetelah Brebes Jawa Timur.

"Bima juga telah menjadi pemasok bawang di beberapa daerah seperti Makassar, Kalimantan, Jayapura, Lombok, Bali, Pulau Jawa, Sumba, dan Flores," kata dia.

Mereka pun pemerintah Kabupaten Bima harus melakukan upaya untuk menstabilkan harga bawang merah, dan melakukan supervisi terhadap tengkulak, kartel dan pembeli (catu) agar tidak memainkan harga bawang serta tidak menumpuk bawang.

"Maka dengan ini kami sebagai putra-putri Kabupaten Bima yang menempuh Pendidikan di kota Makassar menuntut terhadap Pemerintah Kabupaten Bima, agar secepatnya mengakomodir dan menstabillkan harga bawang merah di Kabupaten Bima," tandasnya. (*)

Penulis: Fahrizal Syam
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved