Tujuh Kampus di Indonesia Sepakat Kembangkan Pengetahuan Hijau

Saat ini Unhas telah menjalankan aktivitas hingga kuartal 5 (Q5) dengan menghasilkan CoE Smart Land Use Management (Salut).

Tujuh Kampus di Indonesia Sepakat Kembangkan Pengetahuan Hijau
TRIBUN TIMUR/MUHAMMAD FADHLY ALI
Project Manager Petuah Salut Unhas, Syamsu Rijal 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Perguruan Tinggi Untuk Indonesia Hijau (Petuah) merupakan konsorsium dari tujuh perguruan tinggi dengan fokus pengetahuan hijau di beberapa provinsi.

Ketujuh perguruan tinggi yakni, Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk Provinsi Sulawesi Barat, Universitas Jambi (Unja) dan Universitas Sriwijaya (Unsri) untuk Provinsi Jambi, Universitas Mataram (Unram) dan Universitas Udayana (Unud) untuk provinsi Nusa Tenggara Barat, Universitas Nusa Cendana (Undana) untuk provinsi Nusa Tenggara Timur dan Institute Pertanian Bogor sebagai Lead konsorsium dari Petuah.

Project Manager Petuah Salut Unhas, Syamsu Rijal menuturkan, konsorsium ini bermitra dengan Millenium Challenge Account Indonesia (MCA-I) dari Amerika Serikat untuk menyerap semaksimal mungkin mengenai pengetahuan hijau melalui sumber daya tenaga ahli (expert) dari masing-masing universitas.

"Nah, kemudian masing-masing Universitas membangun pusat keunggulan center of excellent (CoE) untuk mengefektifkan aktivitas pada bidang penelitian, pembelajaran, dan informasi pada lokasi sasaran si masing-masing provinsi," kata Syamsu saat ditemui di focus group discussion (FGD) strategi dan perencanaan dalam penyebarluasan pengetahuan hijau di Sulselbar di Swiss Belinn Hotel Panakkukang Makassar, Kamis (30/3/2017).

Saat ini Unhas telah menjalankan aktivitas hingga kuartal 5 (Q5) dengan menghasilkan CoE Smart Land Use Management (Salut).

"Pada Januari berlanjut pada kuartal 6 (Q6) dan telah melakukan beberapa FGD di wilayah Sulselbar dengan fokus pembelajaran pada bidang perhutanan sosial dan budidaya kakao berkelanjutan," tambahnya.

Dalam hal penyebarluasan produk pengetahuan hijau yang telah dihasilkan diharapkan sesuai dengan target sasaran, sehingga dianggap perlu untuk melibatkan pemangku kepentingan yang terlibat.

"Salah satu stakeholder yang dianggap penting adalah media. Untuk itu kegiatan dalam membangun kesepahaman dalam strategy penyebarluasan informasi pengetahuan hijau dilakukan sebuah FGD melibatkan beberapa media," tutupnya. (*)

Penulis: Muhammad Fadhly Ali
Editor: Anita Kusuma Wardana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved