Juru Kunci Gunung Bawakaraeng Meninggal

Opa Trans Sulsel: Semua Pendaki Bawakaraeng Dianggap Anak oleh Tata Rasyid

Tata sangat terbuka dengan informasi-informasi Bawakaraeng terutama soal kesiapan dan kondisi gunung.

Penulis: Waode Nurmin | Editor: Suryana Anas
Opa Trans Sulsel: Semua Pendaki Bawakaraeng Dianggap Anak oleh Tata Rasyid - tata1_20170314_065152.jpg
TRIBUN TIMUR/WAODE NURMIN
Opa Trans Sulsel: Semua Pendaki Bawakaraeng Dianggap Anak oleh Tata Rasyid - tata2_20170314_065311.jpg
TRIBUN TIMUR/WAODE NURMIN
Jenazah Tata Rasyid (77) Juri Kunci Gunung Bawakaraeng saat akan dimakamkan

Laporan Wartawan Tribun Timur Wa Ode Nurmin

TRIBUN-TIMUR.COM, SUNGGUMINASA- Di usia senja tak membuat Tata Rasyid (77) berhenti melangkahkan kakinya mendaki gunung.

Baginya Gunung Bawakaraeng yang berada di Lingkungan Lembanna, Kelurahan Pattapang, Kecamatan Tinggimoncong, Gowa, adalah rumahnya.

Jarak rumah dengan hutan pinus sebagai gerbang masuknya para pendaki ke Gunung Bawakaraeng sangatlah dekat.

Itulah kenapa Tata tidak pernah lelah menyusuri gunung yang memiliki ketinggian 2.830 dari permukaan laut itu.

Baca: Tata Rasyid Dimakamkan di Hutan Pinus Lembanna

Baca: Mahasiswa UIN Alauddin: Tata Rasyid Itu Bapaknya Pendaki Bawakaraeng

Bahkan karena seringnya mendaki, Tata sangat terkenal di kalangan anak pendaki. Salah satunya Organisasi Pecinan Alam (Opa) Trans Sulsel yang berdomisili di Kabupaten Maros.

Dewan Penasehat Opa Trans, Iwan Dento, punya kenangan tersendiri dengan almarhum. Baginya Tata adalah sang penolong.

"Saya mengenal Tata diawal tahun 1990-an. Tata adalah pemberi respon dan reaksi pertama ketika terjadi apa-apa di Gunung Bawakaraeng. Karena itu saya mengenal beliau sebagai sang penolong," katanya Senin (13/2/2017).

Baca: Innalillahi, Tata Rasyid, Juru Kunci Gunung Bawakaraeng Meninggal

Karena itu Tata sangat terbuka dengan informasi-informasi Bawakaraeng terutama soal kesiapan dan kondisi gunung. Kalau kondisinya tidak memungkinkan maka beliau akan sampaikan dengan sangat terbuka.

"Kalau tidak bisa akan disampaikan tidak bisa. Dia juga tidak sungkan-sungkan menawarkan diri jika memang dibutuhkan pada saat pendakian," katanya.

Tak hanya pribadi, rumahnya pun dia tak segan ditempati untuk tidur dan istirahat bagi para pendaki.

"Siapa pun yang bertandang kerumahnya atau akan naik ke Bawakaraeng dan mampir di rumah Tata semuanya dianggap anak. Rumahnya adalah rumah kita, beliau adalah orangtua kita karena dia menganggap kita semua adalah anak," ujarnya.

Tak hanya Tata. Salah satu tetuah pendaki gunung di Maros juga berpulang ke rahmatullah.

Bang Herman sapaan akrab bagi pecinta alam di Maros meninggal dunia dihari yang sama dengan Tata Rasyid.

"Saya memang ada rencana awalnya tapi jadi batal soalnya Bang Herman juga meninggal dan bagi saya keduanya adalah sama-sama tokoh dan jaraknya lumayan berjauhan, apalagi istri beliau juga orang Lembanna," ujarnya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved