Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Muhammad Nasrul Pengusaha Kripik asal Pangkep Beromzet Rp 35 Juta/Bulan

Saat menjalani kuliah selama 3 semester, ia memutuskan berhenti kuliah, dan balik kampung.

Penulis: Muhammad Fadhly Ali | Editor: Suryana Anas
HANDOVER
Muhammad Nasrul 

Laporan Wartawan Tribun Timur, Muhammad Fadhly Ali

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -- Anak yatim itu menitihkan air mata. Mengingat masa sulit di awal karier bisnis kecilnya, yang kini beromset Rp 35 juta/bulan.

Duduk santai di lantai 17 Hotel Aston, Muhammad Nasrul tampil bag pengusaha mapan dengan setelan kemeja dan celana kain hitam lengkap dengan pantofel mengkilap.

Tanpa banyak basa basi, ia menceritakan lika-liku hidupnya, kala berjuang di dunia bisnis hingga bisa menggerakkan 210 warga pesisir untuk produktif menghasilkan duit.

Dia anak bungsu dari 5 bersaudara. Ayahnya meninggal di saat ia berumur 7 tahun, otomatis ayahnya adalah ibunya. Perekonomian keluarga yang tak menentu di Pangkep membuat ibunya merantau ke Tana Toraja.

"Ibuku, Yasse (65) namanaya, membuka usaha kue kering dan basah, kebetulan kebutuhan kue di sana sangat tinggi di situlah saya di ambil oleh tante untuk tinggal dan disekolahkan," katanya lelaki kelahiran Pangkep 1993 itu.

Setelah tamat SMA, ia mencoba daftar SMPTN tahun 2011. "Saya agak setengah-setengah daftar. Soalnya kasihan ibu ku harus cari uang. Tetapi dia paksakan. Dan Alhamdulillah saya lulus di Unhas jurusan Administrasi Publik," katanya.

Namun, di saat menjalani kuliah selama 3 semester, ia sudah tidak tahan melihat kondisi ibunya. Ia pun memutuskan berhenti kuliah, dan balik kampung.

"Kiri kanan telingahku penuh cemoan orang. Namun Ibuku bilang okelah kalau itu pilihanmu nak," ujarnya.

Dari situ, ia membuat kelompok usaha Cahaya Desa, di Desa Pitue, Kecamatan M'arang, Kabupaten Pangkajene, Kepulauan Pangkep, Sulawesi Selatan, berhasil memberdayakan perempuan pesisir dan potensi lokal di wilayah tersebut.

Cahaya Desa merupakan kelompok yang berbasis usaha rumah tangga yang memproduksi olahan hasil perikanan laut dan pesisir. Kelompok ini memanfaatkan potensi lokal sebagai bahan utama seperti, kepiting, ikan bandeng dan rumput laut.

Nama produknya pun dibuat menggunakan bahasa lokal yang dipadukan dengan Bahasa Inggris, agar terdengar lebih unik dan lucu, seperti Puang Crab, yang berartikan Raja Kepiting.

Produknya ini dikemas secara modern dan telah memiliki izin Pangan Industri dan Rumah Tangga dari Dinas Kesehatan. Bahkan audah bersertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kelompok Cahaya Desa sendiri dibentuk sejak tahun 2012 silam oleh muhammad Nasrul dengan beranggotakan 10 orang. Di tahun yang sama kelompok ini mendapat dukungan dari program Restoring Coastal Livelihood (RCL) Oxfam sehingga anggotanya bertambah menjadi 28 orang.

Puang Crab ini berbahan dasarkan kepiting-kepiting kecil atau orang pangkep menyebutnya kepiting sojo, yang banyak ditemukan disekitar pesisir desa pitue yang sengaja dibuang oleh nelayan karena dianggap tidak mempunyai nilai jual.

"Kepiting sojo ini kami inovasi dengan membuatkan sarinya untuk kemudian diolah menjadi kerupuk. Kami coba pasarkan dan ternyata laris manis. Awalnya pemasaran hanya di warung-warung sekitar rumah sini dan sekolah-sekolah. Sekarang sudah dijual kemana-mana, termasuk di Makassar sampai luar keluar kota.”jelas nasrul.

Selain puang crab Ada juga produk andalan lainnya seperti Arung Bolu, my agara dan kacang bandeng, harganya pun cukup terjangkau berkisar Rp 8 ribu-Rp 10 ribu/bungkus.

Pada awal usaha, sebulan omzet usaha kelompok milikn Nasul bisa mencapai Rp 7 juta - Rp 18 juta. Produknya pun tidak lagi hanya sebatas produksi dari Kelompok Cahaya Desa, tapi juga dari produk mitra usaha mereka, kelompok-kelompok lain yang ada di Kecamatan Ma’rang.

“Alhamdulillah sekarang sudah mempekerejakan 28 orang dan semuanya merupakan ibu - ibu yang tinggal di daerah pesisir Desa Pitue, mereka membantu perekonomian suaminya yang notabene merupakan seorang nelayan, awalnya suaminya tidak setuju bahkan ada yang datang memaki maki saya, katanya jangan ajak lagi istri saya ketempat ini kerja seperti ini, namun itu dulu sebelum pemikiran mereka terbuka," katanya.

Tetapi setelah mereka melihat hasilnya ternyata cukup bagus dan bisa meningkatkan perekonomian keluarga, akhirnya mereka pun setuju.

Sekarang dia sudah beromzet Rp 35 juta perbulan, dengan Jumlah anggota kelompok 25 orang, kelompok perempuan yang dibina18 kelompok, dan Jumlah perempuan yang digerakkan 210 orang.

Dan akhirnya tiga mimpinya telah terwujud. Melanjutkan kuliah dengan isi dompet sendiri, mensejahterakan perempuan pesisir.

"Dan sekarang bisama kasi naik Tanah Suci Ibuku. Tahun lalu sudah saya bayar, insha Allah 3 tahun ke depan sudah bisa haji," katanya dengan mata berkaca-kaca.

Saat ini Cahaya Desa Menjadi Model Percontohan Pengolahan produk perikanan dan kelautan di Pangkep. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved