Nonton Film Lion, Danny Pomanto : Saroo Anak Lorong Juga
Danny mengatakan, pemutaran perdana film Lion di Kota Makassar sebagai bentuk persahabatan antara Australia dan Indonesia, khususnya Makassar.
Penulis: Fahrizal Syam | Editor: Anita Kusuma Wardana
Laporan Wartawan Tribun Timur Fahrizal Syam
TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto turut menyaksikan pemutaran perdana film Lion, pada acara Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2017 di Trans Studio Mall Makassar, Sabtu (28/1/2017) malam.
Danny bersama istrinya ikut menonton bersama Konjen Australia di Makassar Richard Mathew, pengusaha Andi Idrus Manggabarani, serta beberapa alumnus perguruan tinggi Australia.
Danny mengatakan, pemutaran perdana film Lion di Kota Makassar sebagai bentuk persahabatan antara Australia dan Indonesia, khususnya Makassar.
"Saya kira ini adalah bentuk persahabatan antara Australia dengan Indonesia, terkhusus Australia dengan kota Makassar, dan saya kira ikatan emosional lewat kisah film true story seperti ini memberikan suatu isyarat, share dalam perasaan dan emosional, dan memperkuat Australia dan Makassar," kata Danny usai menonton film Lion.
Menurut Danny, Ini sebuah kehormatan bagi Makassar, sebuah film internasional kelas dunia ditayanhkan perdana di Makassar.
"Kisahnya luar biasa, kita punya banyak kisah-kisah juga tapi kita tidak mampu membuat film yang sangat inspiring seperti ini. Mampu membuat film oke, tapi membuat ceritra yang luar biasa seperti ini yang sulit," ujarnya.
"Coba lihat Nicole Kidman yang main, itu artinya film ink tidak main-main. Pemeran Saroo juga itu pemain dunia juga Dev Patel luar biasa," tambahnya.
Danny bahkan menyamakan dirinya dengan Saroo, sosok yang diceritakan dalam film Lion, sebagai anak lorong.
"Yang jelas anak lorong. Luar biasa perjuangan hidup, cinta, kemudian RAS, bangsa, kemiskinan dan kemakmuran, antagonismenya itu di situ. Luar biasa, kita terhanyut dalam emosional," kata dia.
Lion menceritakan kisah nyata dari seorang bocah lima tahun bernama Saroo dari sebuah desa di pelosok India, Ganesha Telei.
Tanpa sengaja, bocah itu terdampar di Kota Kalkuta yang jaraknya sekitar 1600 km dari desanya, setelah terpisah dati kakaknya dan tak sengaja menumpang di sebuah kereta api.
Selama di Kalkuta hidupnya menderita. Kelaparan, dikejar-kejar sebagai gelandangan, hingga nyari jadi korban perdagangan manusia.
Hingga akhirnya pasangan suami istri asal Tazmania, Australia mengadopsi Saroo hingga dewasa.
Di situlah awal kisah nyata kehidupan Saroo yang berusaha mencari ibu kandung, saudara, dan kampung halamannya selama 25 tahun. (*)