Guru Besar Unhas: Ketulian Bayi Sulit Terdeteksi

Diperlukan kerja sama dokter, perawat, tenaga kesehatan, termasuk asisten audiologi, terapis wicara, pendidik, dan teknisi.

Guru Besar Unhas: Ketulian Bayi Sulit Terdeteksi
Courtesy: M Dahlan Abubakar
Prof Dr dr Eka Savitri, Guru Besar Tetap dalam Ilmu THT-KL Fakultas Kedokteran (FK) Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Gangguan pendengaran berbeda dengan cacat lainnya. Bayi atau anak yang mengidap tuli sulit dideteksi. Banyak orangtua yang abai dan tidak sadar bahwa sesungguhnya anaknya mengalami ketulian.

Itu bagian dari hasil penelitian Prof Dr dr Eka Savitri yang diingatkan dalam orasi ilmiah penerimaan jabaan Guru Besar Tetap dalam Ilmu THT-KL Fakultas Kedokteran (FK) Unhas di Makassar, Kamis (12/1/2017), seperti dalam rilis yang dikirim Kepala Humas dan Protokol Unhas M Dahlan Abubakar.

Menurutnya, untuk mengatasi gangguan pendengaran dan ketulian di Indonesia perlu dilakukan upaya promotif, preventif, dan memberikan pelayanan kesehatan indera pendengaran yang optimal sebagai upaya kuratif dan habilitasi/rehabilitasi.

“Untuk itu diperlukan kerja sama dari berbagai pihak, di antaranya dokter, perawat, tenaga kesehatan, termasuk asisten audiologi, terapis wicara, pendidik, teknisi, dan masyarakat pada umumnya,” kata Prof Eka.

Dalam orasinya yang berjudul “Konsep pencegahan Ketulian Menuju Indonesia Bebas Ketulian Tahun 2030", ibu dua anak yang dilahirkan di Ujungpandang 21 Februari 1962 itu mengatakan, penyakit penyebab gangguan pendengaran/ketulian yang agak sulit dicegah adalah Presbikusis. Yakni, ketulian akibat proses degeneratif organ pendengaran yang disebabkan faktor umur.

“Angka harapan hidup meningkat, berarti presbikusis bertambah. Diperlukan adanya asuransi kesehatan yang dapat menanggung alat bantu dengar (ABD) atau implan kohlea yang sekarang ini belum tertanggung oleh asuransi kesehatan di Indonesia,” ujar lulusan S-1 Unhas 1987 tersebut.

Menurut Eka Savitri, gangguan pendengaran berbeda dengan cacat yang lainnya, yang pada bayi/anak mengalami gangguan pendengaran seringkali tidak terdeteksi atau tidak segera diketahui baik oleh orangtua sendiri.

“Gejala awal sulit diketahui, karena ketulian tidak terlihat,” kata Prof Eka.(*)

Editor: AS Kambie
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved